15 Okt 2025

Aroma Nusantara di Wacker's Kaffee

Kelakuannya sama kayak kita; Ngopi di pinggir jalan 

Frankfurt, Jerman—Kata orang, di sini pusat keuangan Eropa, ritme kehidupannya berjalan nyaris tanpa jeda. Orang-orang berdandan sama: winter coat dengan syal melilit di leher. Trem melintas, pertokoan menghias diri lalu perlahan mulai sesak dipenuhi orang. Kota ini megah. Denyutnya mars, temponya cepat. Frankfurt visual modernitas yang mengalahkan segala ego.

Tapi, siapa sangka? di sudut lain Frankfurt, sebuah jalan bernama Kornmarkt, ada yang masih setia menawarkan jejalan bubuk hitam dengan aroma dayang-dayang, yang seakan mengajak siapa pun untuk memperlambat langkahnya. Namanya Wacker's Kaffee. Kedai kopi legendaris yang menawarkan keabadian kecapan wangi di lidah yang menanti. 

Wacker's Kaffee cuma bangunan sederhana. Tidak ada hiasan aneh-aneh, tidak ada jendela kaca menjulang atau desain interior yang mengikuti tren kafe masa kini. Hanya sebuah papan nama klasik yang telah menemani Frankfurt sejak 1914. Di bagian depan, karung-karung berserakan berisi kopi dan coklat, dibiarkan begitu saja seperti ingin menyampaikan bahwa "Selamat! Anda layak dapat bintang!" 

Ini adalah kali pertama Saya datang ke Jerman, tepatnya di Frankfurt. Tentu kedatangan Saya bukan tanpa sengaja. Tugas penting menyertai Saya bersama mungkin sekitar 16 orang lainnya. Tahun ini Saya mendapat kesempatan mengunjungi Frankfurt Book Fair. Pameran buku terbesar dan tertua di dunia. Katanya, sih ke sini salah satu impian para insan literasi. Bagi saya, ini bukan sekadar impian yang menjadi nyata, tapi sebuah penghargaan dan pengalaman yang tak ternilai harganya yang saya dapatkan dari tempat tercinta di mana saya bekerja; Penerbit Erlangga.

So, kita balik lagi ke Wecker's the beautiful place. Layaknya kedai kopi, pengalaman membuka pintu toko adalah salam pembuka dari asap-asap tipis yang membawa aroma kopi. Mereka menyambut seperti rombongan marawis. Sumpah! Wanginya manteng gak pergi-pergi. Apa karena terjebak hawa dingin? Intinya, antara wangi kopi dan udara dingin Frankfurt mengahsilkan kontras yang sempurna! Di balik meja bar, mesin espresso bekerja tanpa henti. Dentingan cangkir, suara biji kopi yang digiling, dan percakapan singkat pelanggan membentuk irama pagi yang akrab.

Tidak banyak kursi tersedia. Sempit banget pokoknya. Sebagian besar pengunjung datang untuk menikmati espresso singkat sebelum melanjutkan aktivitas. Ada yang membaca koran, ada yang berbincang pelan, tetapi sebagian besar hanya berdiri sambil menikmati kopi. Budaya minum kopi di sini terasa sederhana: bukan untuk berlama-lama, melainkan menjadi bagian dari rutinitas harian.

Di salah satu sisi ruangan, rak-rak kayu memajang berbagai biji kopi hasil sangraian Wacker's Kaffee. Setiap kantong mencantumkan negara asalnya—Brasil, Kolombia, Ethiopia, Guatemala, Wina, hingga Java dan Sumatra! Gila! Jauh-jauh ke Jerman, yang jadi primadona ternyata kopi dari tanah kampung sendiri: Nusantara!

Jujur, nama Java dan Sumatra di rak tersebut menghadirkan rasa bangga yang sulit disembunyikan. Dalam dunia kopi, Indonesia bukanlah pemain baru. Selama berabad-abad, Nusantara telah menjadi salah satu penghasil kopi paling berpengaruh. Bahkan, Pulau Jawa begitu dikenal di Eropa dan Amerika sehingga kata java kemudian menjadi sinonim untuk kopi dalam bahasa Inggris. Sementara itu, Sumatra dikenal melalui kopi-kopinya yang bertubuh penuh, kaya rempah, beraroma tanah basah, dan meninggalkan kesan panjang setelah diseruput.

Di berbagai rumah sangrai Eropa, karakter kopi Jawa dan Sumatra kerap dimanfaatkan untuk memberikan kedalaman rasa pada berbagai racikan. Tidak mengherankan jika origin Indonesia tetap menjadi bagian penting dalam peta kopi dunia hingga hari ini.

Dari banyak pilihan biji kopi yang dapat dibeli, mata saya tertuju pada sebuah kaleng besar bertuliskan "Wiener Mischung". Jujur. Saya gak tau ini kopi jenis apa. Tapi kaya ada feeling aja kalau ini kopi rasanya enak. Tentu ini juga salah satu house blend khas Wacker's Kaffee di antara jagoan lainnya karna di taro berjejer dengan kopi jagoan lainnya. Saya memutuskan membeli biji itu sebanyak 500gr. Setengah bagian digiling, setengahnya lagi saya biarkan masih berbentuk biji.

Belakangan, saya baru tau kalau "Wiener Mischung" itu bahasa Jerman, "Wiener" berarti "orang atau hal yang berkaitan dengan Wina", sedangkan "Mischung" berarti "racikan" atau "campuran". Jadi, nama ini secara harfiah berarti "Racikan Kopi ala Wina". Terima kasih Gus Gugel.

Wacker's Kaffee tidak neko-neko. Kopi di sini dikemas dalam balutan plastik kuning emas dengan tulisan klasik, jauh dari desain modern yang ramai warna. Mungkin justru di situlah daya tariknya. Ia mewakili filosofi Wacker's Kaffee, kualitas tidak perlu banyak hiasan. Membawa pulang kopi ini seperti bermakna membawa pulang aroma sebuah kota.


Kesadaran bahwa perjalanan secangkir kopi ternyata jauh lebih panjang daripada yang dibayangkan. Sebelum sampai di meja pelanggan di Frankfurt, mungkin ada biji kopi yang pernah tumbuh di lereng pegunungan Jawa, dipetik saat matahari baru terbit, dijemur di halaman rumah petani, kemudian menempuh ribuan kilometer melintasi samudra menuju Eropa. Di tangan para "penyihir" Wacker's Kaffee, biji-biji itu memperoleh karakter baru sebelum akhirnya diseduh menjadi secangkir kopi yang dinikmati orang-orang dari berbagai penjuru dunia.

Di sanalah kopi memperlihatkan makna yang sesungguhnya. Ia bukan hanya soal rasa atau aroma, melainkan kisah tentang perjalanan manusia. Tentang petani yang menjaga kualitas panen, pelaut yang membawa hasil bumi melintasi lautan, penyangrai yang memahami setiap karakter biji, hingga penikmat kopi yang mungkin tidak pernah menyadari betapa panjang perjalanan secangkir kopi di hadapannya.

Frankfurt memberikan banyak hal untuk dikenang: gedung-gedung pencakar langit, Sungai Main yang tenang, kawasan kota tua Römerberg yang memesona, hingga museum-museum kelas dunia. Namun, di antara semua itu, sebuah kedai kecil bernama Wacker's Kaffee justru meninggalkan kesan yang paling hangat. Barangkali karena di tempat itulah tersaji sebuah pengingat sederhana: sejauh apa pun perjalanan membawa kita, aroma Nusantara selalu mampu menemukan jalannya sendiri. Kadang bukan melalui bendera atau bahasa, melainkan melalui secangkir kopi yang diseduh dengan penuh penghormatan terhadap asal-usulnya.

Dan ketika cangkir itu kosong, yang tertinggal bukan sekadar rasa, melainkan keyakinan bahwa kopi lebih mampu berbicara dalam bahasa yang dipahami oleh seluruh dunia.

Frankfurt, 13 Oktober 2025

Tidak ada komentar:

Posting Komentar