9 Jan 2026

Solo dan Pelajaran tentang Pulang

Tidak ada komentar:

judulnya kopi podjok, tapi posisinya
di bagian depan pasar ya gaes

Tidak ada daftar panjang tempat wisata, tidak ada ambisi untuk melihat semuanya. Solo seperti pulang, seperti rumah dengan seorang ibu yang menanti di depan pintunya.

Solo bukan kota kelahiran saya, tapi ia tahu cara menyambut saya dengan caranya sendiri. Tidak riuh, tidak berlebihan. Ia seperti seseorang yang sudah berdamai dengan dirinya, sehingga tidak merasa perlu menjelaskan siapa dirinya kepada pendatang: Saya! Kota ini tidak berusaha mengesankan; ia hanya hadir, tenang dan setia pada ritmenya, asyik dengan dirinya sendiri.

Kunjungan saya ke Solo tidak terlalu sering, bisa dihitung jari, mungkin tiga kali dalam kurung waktu lima tahun ke belakang. Tidak banyak yang saya ingat. Hanya tempat-tempat besar yang menyimpan secuil kenangan, salah satunya: Pasar Gede Hardjonagoro. Entah kenapa saya selalu suka dengan aroma pasar. Mungkin karena sedari kecil saya sering diajak Emak saya ke pasar. 

Pasar Gede. Bangunan tua itu berdiri tegak dikelilingi kepungan motor dan becak. Atap menaungi kehidupan yang berjalan bersahaja. Pedagang menghamparkan barang sagangannya, pembeli datang dan pergi, suara-suara kecil saling bersinggungan saling bertabrakan menciptakan suara bising mirip sayap-sayap lebah.

Seingat saya, saya ke pasar ini mungkin sekitar tahun 2018. Yang membawa saya ke sini, Pak Selamet Raharjo namanya, kami memanggilanya Om Slem. Lalu, pertemuan pertama saya dengan mangkuk kecil berisi es dawet dingin di saat itu pun terjadi. Dawet disugukan kepada saya tanpa upacara. Tegukan pertama terasa jujur. Manis gula jawa, gurih santan, dan cendol yang kenyal menyatu dalam rasa yang tidak ingin saling berebut menonjolkan diri. Es dawet ini tidak berusaha memukau; ia hanya ingin setia pada apa yang sejak lama ia kenal.

yang kuning itu duren ya.. by the way

Kini, momen itu pun terulang kembali. Hanya beda waktu, selebihnya sama. Seakan semua seperti membeku sejak dulu sampai saya datang saat ini. Saya duduk, meneguk perlahan, memandangi orang-orang yang berlalu. Di momen itu, saya menyadari bahwa Solo memiliki hubungan yang berbeda dengan waktu. Di sini, waktu tidak dikejar. Ia dibiarkan berjalan, dan kita diajak untuk berjalan bersamanya.

Dari Pasar Gede, saya melangkah ke depan, ke sebuah toko kecil bernama Kopi Podjok. Letaknya sederhana, nyaris luput jika tidak benar-benar memperhatikan. Namun aroma kopi yang keluar dari dalamnya seolah memanggil. Saya memilih beberapa biji kopi, membayangkan suatu pagi di rumah, ketika Solo hadir kembali lewat uap hangat dari cangkir sederhana, di teras rumah, bersama istri.

Membeli biji kopi di kota ini terasa seperti membawa pulang kenangan yang belum selesai. Sesuatu yang bisa dibuka kembali, kapan pun rindu datang tanpa peringatan. Dua bungkus manis ratusan biji: Gunung Lanang dan Temanggung. Meskipun yang lainnya menggiurkan: Gayo dan Sidikalang. Tapi tampaknya saya sedang ingin bermesraan dengan dua pilihan awal saya di depan.


sambil makan, nonton ini, neflix lewat

Menjelang malam, Solo berganti wajah. Lampu-lampu menyala pelan, dan kota ini menemukan bentuk kehangatannya yang lain. Saya diajak singgah di Wedangan Pendopo. Sebuah mahakarya tempat singgah yang lebih mirip rumah idaman semua manusia. Saya duduk di bangku kayu, ditemani minuman hangat berisi jahe geprek dan jeruk peras. Jajanan kecil menyapa persis di depan hidung saya. Wedangan sepertinya bukan sekadar tempat makan; ia adalah rumah kecil yang diperuntukkan bagi siapa saja yang rindu pulang.

Solo mengajarkan saya tentang pulang. Bukan pulang ke kampung halaman asal saya, melainkan pulang ke diri sendiri. Ke versi diri yang mau berhenti sejenak, yang tidak selalu ingin lebih cepat, lebih banyak, atau lebih jauh. Di kota ini, saya belajar bahwa menikmati hidup tidak harus dirayakan dengan gemerlap tapi cukup dengan waktu yang kita biarkan berjalan perlahan tanpa imbauan. 

18 Nov 2022

Menyoal Langit Tak Mendengar

Tidak ada komentar:


Ditulis akibat diskusi gak jelas,-
Forum Bacang Institute (FBI)—
Catatan 18 Nov 2022
Hijrah ahmad
 
Langit Tak Mendengar
Peter Pan 2005
 
Jadi hidup telah memilih
Menurunkan aku ke bumi
Hari berganti dan berganti
Aku diam, tak memahami
 
Mengapa hidup begitu sepi?
Apakah hidup seperti ini?
Mengapa ku s'lalu sendiri?
Apakah hidupku tak berarti?
 
Coba bertanya pada manusia
Tak ada jawabnya
Aku bertanya pada langit tua
Langit tak mendengar
 

Terkesan mendalam dan bermakna. Begitu kira-kira jika kita membaca lirik ini sekilas. Apalagi jika kita mendengarkan lagunya; begitu mars, menggebu-gebu, penuh impresi. Ya. Ariel sepertinya di sini tak hanya menghadirkan lirik, tapi kritik satir soal kehidupan, tuhan, dan kesendirian, luapan sentimentil akan eksistensi seorang anak manusia.
 
Ya. Eksistensi manusia. Boleh dibilang, salah satu problem purba anak manusia adalah persoalan eksistensial. Sependek yang saya tahu, banyak disiplin ilmu, baik teologi, psikologi, sosiologi, bahkan filsafat, persoalan eksistensial manusia selalu menjadi buah bibir yang manis dan tak habis-habis dibahas. Problem eksistensi manusia tak hanya menjelma dalam perbincangan ruang-ruang kelas, tapi juga dalam ekspresi seni yang bernama musik dan lagu, salah satunya adalah lirik besutan Ariel Noah. Lirik dan lagu ini dirilis tahun 2005.
 
Sebelum masuk ke pembahasan, saya ingin sampaikan bahwa tulisan ini semacam rangkuman dari obrolan sambil ngopi sore hari di Bacang bersama Kang Rifki Kurniawan dan Mas Alwi Kosasih. Sejujurnya, sebagai pendengar lagu-lagu Barat, saya jelas tidak terlalu serius ketika membahas ini, tapi karena dua teman saya itu sepertinya sangat tertarik dengan lirik-lirik Ariel ya, saya terpaksa aja serius nanggepinnya.
 
Oke. Mari kita bahas! Rima. Seperti penulis lagu pada umumnya, rima akan selalu menjadi pertimbangan utama dalam sebuah lirik. Di lagu ini, Ariel terlihat jelas mempertimbangkan rima. Itu standar sih. Oke, sampe di situ aman. Gak perlu dibahas panjang. Lanjut, kita masuk ke lirik. Menurut saya, mungkin siapa pun yang membaca lirik ini akan memiliki penafsiran yang sama: Pertanyaan tentang hidup yang seperti sendiri, gak ada yang mau mengerti atau peduli sama kita, terus gak tau mau ngapain lagi? dan seterusnya. Sebagai sebuah pertanyaan eksistensial, terkesan oke sih, apalagi penggunaan diksi “bumi” dan “langit”, wah banget kayanya.
 
Tidak hanya itu, di depan Ariel mengunci lirik “eksistensialnya” itu dengan istilah “hidup”Istilah yang sangat akrab dengan persoalan eksistensial. Istilah “hidup” paling tidak secara primer disebutkan sebanyak empat kali dengan predikat yang berbeda. Pertama “Hidup telah memilih” kedua “hidup begitu sepi”, ketiga “hidup seperti ini”, dan terakhir “hidupku tak berarti”. Kata “hidup” yang pertama dalam kalimat “jadi hidup telah memilih” sudah pasti dihadirkan oleh penulis sebagai penegasian akan keniscayaan takdir yang tidak mampu ditolak oleh semua manusia, yaitu “kehidupan di dunia”.  “Hidup” adalah takdir itu sendiri. Takdir milik Tuhan dan “memilih” adalah kekuasaan Tuhan. Tidak mungkin manusia memilih untuk menghidupkan dirinya sendiri. Menghidupi diri sendiri aja susah!

30 Mei 2022

cinta,-

Tidak ada komentar:
gambar:brilio.net/

“Religious man deeply desires to be, to participate in reality, to be saturated with power.” –Mircea Eliade

Mari bicara cinta. Apa Anda percaya, bahwa karena cinta, Tuhan memercikkan ‘hasrat’-Nya untuk mencipta kreasi sempurna bernama Manusia? Atau, apa Anda lebih percaya, bahwa karena manusia, Tuhan mencipratkan ‘kuasa’-Nya untuk mencipta kreasi terbaik bernama cinta?

Betapa pun kita membolak-balik kemungkinan itu, saya kira hasilnya sama saja. Karena cinta atau karena manusia, cinta tidak mungkin kita pisahkan dari Tuhan. Ketiganya menjadi rangkaian sebab-akibat dan jalan logika, bagi siapa pun itu. 

Tuhan adalah ide tertua yang pernah ada dan dikembangkan manusia, begitu menurut Karen Amstrong. Bagi saya, ide itu berjalan penuh bersama pencarian manusia akan cinta. Karena sejatinya, cinta yang membawa manusia mencari Tuhannya. Cinta adalah sumber hidup dan kehidupan manusia.

Cinta hadir sejak zaman azali dan tetap ada sampai setua apa pun dunia ini. Bukankah umat Muhammad selalu mencita-citakan itu? Cinta yang terbungkus energi dinamis dan aroma yang terus bergolak dan menggelora dalam lamat-lamat selawat.

Tak peduli mata yang buta, kaki yang lumpuh, cinta membuncah Busyiri dalam Syair Burdah, melipat Bediuzzaman Said Nursi dalam metafor zaman yang tercium seperti baru kemarin sore.

13 Sep 2021

guru,-

Tidak ada komentar:

gambar: tanotofoundation.org

Sejak jauh hari, al-Gazali berkata, "kerja seorang guru tidak ubah seperti kerja seorang petani yang senantiasa membuang duri serta mencabut rumput yang tumbuh di celah-celah tanamannya."

Bohong rasanya jika tak ada satu orang pun tak pusing ketiban wabah corona. Siapa pun Anda, pekerja kantoran, pedagang, pelajar, mahasiswa, ibu rumah tangga, (apalagi) guru. pasti pusing dibuatnya. Tidak dimungkiri, wabah Covid-19 nyata telah banyak mengubah laku hidup kita. Mendadak lalu kita bersahabat dengan istilah Lockdown, WFH, LFH, PSBB, dan lain sebagainya. Istilah-istilah itu lalu menjelmakan dirinya sebagai bagian 'penting' dan 'baru' dalam hidup kita: New Normal.

Mendampingi anak-anak learning from home misalnya, tentu sangat memusingkan karena kita pun harus melakukan kegiatan work from home dalam waktu yang bersamaan. Walhasil, dalam satu hari, orangtua harus berbagi tugas antara pekerjaan kantor sekaligus mendampingi anaknya mengerjakan setumpuk tugas yang diberikan oleh gurunya. Bahasa Indonesia, Biologi, IPS, atau matematika yang entah kapan terakhir anda belajar Kelompok Persekutuan Kecil dan Faktor Persekutuan terbesar. 

Wabah Covid-19 jelas menuntut energi dan kemampuan kita dua kali lebih besar bahkan lebih dari biasanya. Positifnya apa? Jelas selalu ada sisi positif dalam setiap hal. Apalagi yang namanya: ‘kesusahan’. Al-Qur’an bahkan menyebutnya sebanyak dua kali pada ayat 5 dan 6 surah Al-Insyirah: “Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan,” Kemudahannya apa? Salah satunya kemudahan berupa kesempatan untuk mengembangkan diri, memperbaiki diri? Mungkin juga. Seseorang yang enggan berurusan dengan dunia maya, mau tidak mau, sudi tidak sudi mesti belajar semua itu.