19 Agu 2026

Kopi Toraja

Tidak ada komentar:

adem banget tengari bolong

Mungkin bagi kebanyakan orang, menikmati Toraja biasanya didefinisikan dengan melihat langsung uniknya Tongkonan, tebing batu makam, atau deretan kerbau sakral dengan segala mistisme ritualnya. Tapi bagi saya, cara terbaik untuk mendefinisikan Toraja adalah momen saat menikmati seduhan bubuk kopinya sambil duduk tenang di kedai kopi. Bagi saya lagi, aroma kopi tidak sekadar bercerita tentang aroma dan asap tipis yang mengepul tapi ia juga hadir penuh dalam ruang-ruang sunyi kehidupan. Ya! Kehidupan sepi khas seorang anak manusia dengan umur di atas 40 tahun. 

Kopi Phoenam
Sependek yang saya ingat, mungkin baru empat atau lima kali saya bertandang ke Sulawesi. Kota terjauh yang pernah saya kunjungi bernama Pangkeb alias Pangkajene Kepulauan. Di sini, di Makassar tepatnya, saya hampir tidak pernah melewatkan kesempatan menikmati kopi. Seperti wajib hukumnya. Banyak yang klasik, banyak yang enak, salah satunya Kopi Phoenam. 

Jika kita masuk ke dalam kedai ini, kita akan melihat deretan foto-foto lama dengan alur cerita sejarah panjang bagaimana kedai ini didirikan. Sentuhan interior bernuansa Tionghoa, aroma kopi yang membakar hidung, dan sajian roti panggang berselimut sarikaya membuat kopi tak lagi sekadar minum-minum santai—ia seperti bagian dari tradisi bertukar gagasan dan merawat kehangatan berkumpul. Nah, yang uniknya adalah, entah kenapa suguhan di kedai ini sangat mirip dengan apa yang disuguhkan oleh kedai kopi Purnama di Bandung. Ada kopi, ada roti berisi selai srikaya. Mirip banget. Apa memang ini khas dari kedai kopi Tionghoa?—yang tahu silakan komen di kolom komentar ya.

Dalam riwayatnya, Kedai Kopi Phoenam sudah menemani warga Makassar sejak 1946. Dirintis oleh Liong Thay Hiong bersama keluarganya, kedai ini awalnya berada di Jalan Nusantara, dekat Pelabuhan Makassar. Belakangan, Phoenam berpindah ke Jalan Jampea, di kawasan Pecinan Makassar, tempat yang saya kunjungi saat ini.

Nama “Phoenam” sendiri konon berasal dari bahasa Mandarin yang kurang lebih berarti “tempat persinggahan di selatan.” Kalau melihat sejarahnya, nama itu terasa pas. Sejak dulu kedai kopi memang jadi tempat orang mampir—awalnya mungkin sekadar minum kopi, tapi akhirnya lanjut mengobrol ke mana-mana.

Selama puluhan tahun, meja-meja Phoenam mungkin telah menjadi menjadi saksi banyak cerita. Ada yang datang untuk ngobrol santai, bertemu teman, membicarakan bisnis, bahkan berdiskusi soal politik. Jadi, datang ke Phoenam rasanya bukan cuma soal mencari secangkir kopi, tetapi juga mencicipi sedikit sejarah dan budaya ngopi di kota Makassar.

4 Agu 2026

TMT; Membaca Kematian dalam Kehidupan

Tidak ada komentar:
Trio Ambisi

Pernahkah kita, tiba-tiba terdiam setelah mendengar kabar seseorang meninggal dunia? Saudara, teman, atau orang tua kita mungkin? Lalu, seketika kita menjadi sibuk mengingat dosa dan pahala, bertanya kabar pada orang terdekat kita. Ya. Kematian memang belum datang, tetapi kesadarannya diam-diam mengubah cara kita dalam memandang hidup.

Setiap kali kematian terdengar di telinga kita, selalu ada sesuatu yang berubah. Mengapa kematian yang menimpa orang lain justru mampu mengubah cara kita memandang hidup? Pertanyaan itulah yang membawa psikologi modern pada sebuah teori yang kemudian dikenal sebagai Terror Management Theory (TMT). Dikembangkan oleh Jeff Greenberg, Sheldon Solomon, dan Tom Pyszczynski pada dekade 1980-an. Teori ini tidak semata berbicara tentang kematian. Sebaliknya, ia mencoba menjelaskan bagaimana manusia bertahan hidup justru karena sadar bahwa hidupnya akan berakhir.

Warisan Pemikiran Ernest Becker
Jauh sebelum istilah TMT diperkenalkan, seorang antropolog budaya Amerika, Ernest Becker, lebih dahulu menggugat cara manusia memahami keberadaan dirinya. Dalam buku monumental The Denial of Death (1973), Becker mengemukakan satu gagasan yang sederhana, tetapi menggelisahkan: manusia adalah satu-satunya makhluk yang mengetahui bahwa ia akan mati.

9 Jan 2026

Solo dan Pelajaran tentang Pulang

Tidak ada komentar:

judulnya kopi podjok, tapi posisinya
di bagian depan pasar ya gaes

Tidak ada daftar panjang tempat wisata, tidak ada ambisi untuk melihat semuanya. Solo seperti pulang, seperti rumah dengan seorang ibu yang menanti di depan pintunya.

Solo bukan kota kelahiran saya, tapi ia tahu cara menyambut saya dengan caranya sendiri. Tidak riuh, tidak berlebihan. Ia seperti seseorang yang sudah berdamai dengan dirinya, sehingga tidak merasa perlu menjelaskan siapa dirinya kepada pendatang: Saya! Kota ini tidak berusaha mengesankan; ia hanya hadir, tenang dan setia pada ritmenya, asyik dengan dirinya sendiri.

Kunjungan saya ke Solo tidak terlalu sering, bisa dihitung jari, mungkin tiga kali dalam kurung waktu lima tahun ke belakang. Tidak banyak yang saya ingat. Hanya tempat-tempat besar yang menyimpan secuil kenangan, salah satunya: Pasar Gede Hardjonagoro. Entah kenapa saya selalu suka dengan aroma pasar. Mungkin karena sedari kecil saya sering diajak Emak saya ke pasar. 

Pasar Gede. Bangunan tua itu berdiri tegak dikelilingi kepungan motor dan becak. Atap menaungi kehidupan yang berjalan bersahaja. Pedagang menghamparkan barang dagangannya, pembeli datang dan pergi, suara-suara kecil saling bersinggungan saling bertabrakan menciptakan suara bising mirip sayap-sayap lebah.

Seingat saya, saya ke pasar ini mungkin sekitar tahun 2018. Yang membawa saya ke sini, Pak Selamet Raharjo namanya, kami memanggilanya Om Slem. Lalu, pertemuan pertama saya dengan mangkuk kecil berisi es dawet dingin di saat itu pun terjadi. Dawet disugukan kepada saya tanpa upacara. Tegukan pertama terasa jujur. Manis gula jawa, gurih santan, dan cendol yang kenyal menyatu dalam rasa yang tidak ingin saling berebut menonjolkan diri. Es dawet ini tidak berusaha memukau; ia hanya ingin setia pada apa yang sejak lama ia kenal.

Kini, momen itu pun terulang kembali. Hanya beda waktu, selebihnya sama. Seakan semua seperti membeku sejak dulu sampai saya datang saat ini. Saya duduk, meneguk perlahan, memandangi orang-orang yang berlalu. Di momen itu, saya menyadari bahwa Solo memiliki hubungan yang berbeda dengan waktu. Di sini, waktu tidak dikejar. Ia dibiarkan berjalan, dan kita diajak untuk berjalan bersamanya.

23 Okt 2025

Frankfurter Buchmesse

Tidak ada komentar:

Jika ada pertanyaan apa saja hal yang patut disyukuri dalam hidup saya? Salah satu jawabannya adalah bisa menginjakkan kaki di bumi Eropa. Ya! Tahun ini saya berkesempatan menjelajahi Eropa lewat pesona negeri Jerman, Belanda, dan Perancis.

FBF 2025 berlangsung di Messe Frankfurt, Frankfurt am Main, Jerman, dari 15 s.d. 19 Oktober 2025. 
Guest of Honour pada tahun ini adalah negara Filipina dengan tema “The Imagination Peoples the Air”. Dalam catatan websitenya, peserta terdaftar meliputi penerbit, agen literatur, media, kreator dari berbagai negara, serta pengunjung industri (trade visitors) dan kemudian publik umum. Terdapat 118.000 pengunjung (trade visitors) dan 120.000 pengunjung umum dari 131 negara.

Desain dan Pengaturan Kegiatan
Secara lokasi, Messe Frankfurt sangat strategis: hall-hall besar, akses mudah melalui transportasi umum, dan signage yang jelas. Terdapat informasi dalam bentuk hall plan, aplikasi frankfurt connect, dan papa direktori yang membantu para pengunjung. Pengaturan zonasi: terdapat area untuk trade (industri), public area, panggung diskusi, area tamu khusus, tempat istirahat: relax, dan spot untuk acara anak-anak.

Penerbit diberikan tahapan perencanaan sejak jauh hari, dimulai dari pendaftaran, alokasi stan, dan layanan tambahan lainnya. Jam pembukaan ditetapkan secara konsisten, misalnya untuk eksibitor dan visitor tamu mulai pukul 09.00 dan untuk pengunjung umum di jam selanjutnya. 

Dalam hal pengaturan “lalu lintas” pengunjung dan trader visitor, penyelenggara membuat skema: untuk peserta dan eksibitor dapat lebih awal, sebelum publik umum, sehingga industri bisa melakukan negosiasi/networking sebelum publik berdatangan.

Penggunaan aplikasi digital “Frankfurt Connect” yang berisikan seluruh informasi, baik produk, penulis, stan, dan informasi lainnya memudahkan pengunjung untuk merencanakan kunjungan, kontak peserta, appointment, melihat peta hall, dan informasi lainnya.

Booth yang Menarik & Futuristik
Dalam setiap ajang pameran, tentu masing-masing peserta akan mendesain booth semenarik mungkin. Dari beberapa yang diamati rata-rata booth memiliki konsep futuristik yang memadukan permainan bentuk dan cahaya. 

Di booth Mohammed Bin Rashid Al Maktoum Knowledge misalnya, gaya minimalis futuristik, menonjolkan garis tegas bentuk kotak, dominasi warna putih, serta pencahayaan LED biru muda. Penggunaan ruang terbuka dan tinggi atap menciptakan tampilan modern.

Pola yang sama juga disuguhkan oleh booth Thieme. Perbedaannya hanya pada bentuknya, yaitu melingkar. Desain bersih, profesional, dan korporat. Desain Thieme sangat mirip dengan desain booth CBSPD. Elemen dominan: biru dan putih, dengan logo berbentuk pohon sebagai fokus utama di ruang atas (signage melingkar). Pada area duduk dibuat terbuka atau transparan.

15 Okt 2025

Wacker's Kaffee

Tidak ada komentar:
Kelakuannya sama kayak kita; Ngopi di pinggir jalan 

Frankfurt, Jerman—Kata orang, di sini pusat keuangan Eropa, ritme kehidupannya berjalan nyaris tanpa jeda. Orang-orang berdandan sama: winter coat dengan syal melilit di leher. Trem melintas, pertokoan menghias diri lalu perlahan mulai sesak dipenuhi orang. Kota ini megah. Denyutnya mars, temponya cepat. Frankfurt visual modernitas yang mengalahkan segala ego.

Tapi, siapa sangka? di sudut lain Frankfurt, sebuah jalan bernama Kornmarkt, ada yang masih setia menawarkan jejalan bubuk hitam dengan aroma dayang-dayang, yang seakan mengajak siapa pun untuk memperlambat langkahnya. Namanya Wacker's Kaffee. Kedai kopi legendaris yang menawarkan keabadian kecapan wangi di lidah yang menanti. 

Wacker's Kaffee cuma bangunan sederhana. Tidak ada hiasan aneh-aneh, tidak ada jendela kaca menjulang atau desain interior yang mengikuti tren kafe masa kini. Hanya sebuah papan nama klasik yang telah menemani Frankfurt sejak 1914. Di bagian depan, karung-karung berserakan berisi kopi dan coklat, dibiarkan begitu saja seperti ingin menyampaikan bahwa "Selamat, Bung! Anda layak dapat bintang!" 

Ini adalah kali pertama Saya datang ke Jerman, tepatnya di Frankfurt. Tentu kedatangan Saya bukan tanpa sengaja. Tugas penting menyertai Saya bersama mungkin sekitar 16 orang lainnya. Tahun ini Saya mendapat kesempatan mengunjungi Frankfurt Book Fair. Pameran buku terbesar dan tertua di dunia. Katanya, sih ke sini salah satu impian para insan literasi. Bagi saya, ini bukan sekadar impian yang menjadi nyata, tapi sebuah penghargaan dan pengalaman yang tak ternilai harganya yang saya dapatkan dari tempat tercinta di mana saya bekerja; Penerbit Erlangga.

So, kita balik lagi ke Wecker's the beautiful place. Layaknya kedai kopi, pengalaman membuka pintu toko adalah salam pembuka dari asap-asap tipis yang membawa aroma kopi. Mereka menyambut seperti rombongan marawis. Sumpah! Wanginya manteng gak pergi-pergi. Apa karena terjebak hawa dingin? Intinya, antara wangi kopi dan udara dingin Frankfurt mengahsilkan kontras yang sempurna! Di balik meja bar, mesin espresso bekerja tanpa henti. Dentingan cangkir, suara biji kopi yang digiling, dan percakapan singkat pelanggan membentuk irama pagi yang akrab.

Tidak banyak kursi tersedia. Sempit banget pokoknya. Sebagian besar pengunjung datang untuk menikmati espresso singkat sebelum melanjutkan aktivitas. Ada yang membaca koran, ada yang berbincang pelan, tetapi sebagian besar hanya berdiri sambil menikmati kopi. Budaya minum kopi di sini terasa sederhana: bukan untuk berlama-lama, melainkan menjadi bagian dari rutinitas harian.

Di salah satu sisi ruangan, rak-rak kayu memajang berbagai biji kopi hasil sangraian Wacker's Kaffee. Setiap kantong mencantumkan negara asalnya—Brasil, Kolombia, Ethiopia, Guatemala, Wina, hingga Java dan Sumatra! Gila! Jauh-jauh ke Jerman, yang jadi primadona ternyata kopi dari tanah kampung sendiri: Nusantara!

18 Nov 2022

Menyoal Langit Tak Mendengar

Tidak ada komentar:


Ditulis akibat diskusi gak jelas,-
Forum Bacang Institute (FBI)—
Catatan 18 Nov 2022
Hijrah ahmad
 
Langit Tak Mendengar
Peter Pan 2005
 
Jadi hidup telah memilih
Menurunkan aku ke bumi
Hari berganti dan berganti
Aku diam, tak memahami
 
Mengapa hidup begitu sepi?
Apakah hidup seperti ini?
Mengapa ku s'lalu sendiri?
Apakah hidupku tak berarti?
 
Coba bertanya pada manusia
Tak ada jawabnya
Aku bertanya pada langit tua
Langit tak mendengar
 

Terkesan mendalam dan bermakna. Begitu kira-kira jika kita membaca lirik ini sekilas. Apalagi jika kita mendengarkan lagunya; begitu mars, menggebu-gebu, penuh impresi. Ya. Ariel sepertinya di sini tak hanya menghadirkan lirik, tapi kritik satir soal kehidupan, tuhan, dan kesendirian, luapan sentimentil akan eksistensi seorang anak manusia.
 
Ya. Eksistensi manusia. Boleh dibilang, salah satu problem purba anak manusia adalah persoalan eksistensial. Sependek yang saya tahu, banyak disiplin ilmu, baik teologi, psikologi, sosiologi, bahkan filsafat, persoalan eksistensial manusia selalu menjadi buah bibir yang manis dan tak habis-habis dibahas. Problem eksistensi manusia tak hanya menjelma dalam perbincangan ruang-ruang kelas, tapi juga dalam ekspresi seni yang bernama musik dan lagu, salah satunya adalah lirik besutan Ariel Noah. Lirik dan lagu ini dirilis tahun 2005.
 
Sebelum masuk ke pembahasan, saya ingin sampaikan bahwa tulisan ini semacam rangkuman dari obrolan sambil ngopi sore hari di Bacang bersama Kang Rifki Kurniawan dan Mas Alwi Kosasih. Sejujurnya, sebagai pendengar lagu-lagu Barat, saya jelas tidak terlalu serius ketika membahas ini, tapi karena dua teman saya itu sepertinya sangat tertarik dengan lirik-lirik Ariel ya, saya terpaksa aja serius nanggepinnya.
 
Oke. Mari kita bahas! Rima. Seperti penulis lagu pada umumnya, rima akan selalu menjadi pertimbangan utama dalam sebuah lirik. Di lagu ini, Ariel terlihat jelas mempertimbangkan rima. Itu standar sih. Oke, sampe di situ aman. Gak perlu dibahas panjang. Lanjut, kita masuk ke lirik. Menurut saya, mungkin siapa pun yang membaca lirik ini akan memiliki penafsiran yang sama: Pertanyaan tentang hidup yang seperti sendiri, gak ada yang mau mengerti atau peduli sama kita, terus gak tau mau ngapain lagi? dan seterusnya. Sebagai sebuah pertanyaan eksistensial, terkesan oke sih, apalagi penggunaan diksi “bumi” dan “langit”, wah banget kayanya.
 
Tidak hanya itu, di depan Ariel mengunci lirik “eksistensialnya” itu dengan istilah “hidup”Istilah yang sangat akrab dengan persoalan eksistensial. Istilah “hidup” paling tidak secara primer disebutkan sebanyak empat kali dengan predikat yang berbeda. Pertama “Hidup telah memilih” kedua “hidup begitu sepi”, ketiga “hidup seperti ini”, dan terakhir “hidupku tak berarti”. Kata “hidup” yang pertama dalam kalimat “jadi hidup telah memilih” sudah pasti dihadirkan oleh penulis sebagai penegasian akan keniscayaan takdir yang tidak mampu ditolak oleh semua manusia, yaitu “kehidupan di dunia”.  “Hidup” adalah takdir itu sendiri. Takdir milik Tuhan dan “memilih” adalah kekuasaan Tuhan. Tidak mungkin manusia memilih untuk menghidupkan dirinya sendiri. Menghidupi diri sendiri aja susah!

30 Mei 2022

cinta,-

Tidak ada komentar:
Apa kabar suara hati?
“Religious man deeply desires to be, to participate in reality, to be saturated with power.” –Mircea Eliade

Mari bicara cinta. Apa Anda percaya, bahwa karena cinta, Tuhan memercikkan ‘hasrat’-Nya untuk mencipta kreasi sempurna bernama Manusia? Atau, apa Anda lebih percaya, bahwa karena manusia, Tuhan mencipratkan ‘kuasa’-Nya untuk mencipta kreasi terbaik bernama cinta?

Betapa pun kita membolak-balik kemungkinan itu, saya kira hasilnya sama saja. Karena cinta atau karena manusia, cinta tidak mungkin kita pisahkan dari Tuhan. Ketiganya menjadi rangkaian sebab-akibat dan jalan logika, bagi siapa pun itu. 

Tuhan adalah ide tertua yang pernah ada dan dikembangkan manusia, begitu menurut Karen Amstrong. Bagi saya, ide itu berjalan penuh bersama pencarian manusia akan cinta. Karena sejatinya, cinta yang membawa manusia mencari Tuhannya. Cinta adalah sumber hidup dan kehidupan manusia.

Cinta hadir sejak zaman azali dan tetap ada sampai setua apa pun dunia ini. Bukankah umat Muhammad selalu mencita-citakan itu? Cinta yang terbungkus energi dinamis dan aroma yang terus bergolak dan menggelora dalam lamat-lamat selawat.

Tak peduli mata yang buta, kaki yang lumpuh, cinta membuncah Busyiri dalam Syair Burdah, melipat Bediuzzaman Said Nursi dalam metafor zaman yang tercium seperti baru kemarin sore.

13 Sep 2021

guru,-

Tidak ada komentar:

gambar: tanotofoundation.org

Sejak jauh hari, al-Gazali berkata, "kerja seorang guru tidak ubah seperti kerja seorang petani yang senantiasa membuang duri serta mencabut rumput yang tumbuh di celah-celah tanamannya."

Bohong rasanya jika tak ada satu orang pun tak pusing ketiban wabah corona. Siapa pun Anda, pekerja kantoran, pedagang, pelajar, mahasiswa, ibu rumah tangga, (apalagi) guru. pasti pusing dibuatnya. Tidak dimungkiri, wabah Covid-19 nyata telah banyak mengubah laku hidup kita. Mendadak lalu kita bersahabat dengan istilah Lockdown, WFH, LFH, PSBB, dan lain sebagainya. Istilah-istilah itu lalu menjelmakan dirinya sebagai bagian 'penting' dan 'baru' dalam hidup kita: New Normal.

Mendampingi anak-anak learning from home misalnya, tentu sangat memusingkan karena kita pun harus melakukan kegiatan work from home dalam waktu yang bersamaan. Walhasil, dalam satu hari, orangtua harus berbagi tugas antara pekerjaan kantor sekaligus mendampingi anaknya mengerjakan setumpuk tugas yang diberikan oleh gurunya. Bahasa Indonesia, Biologi, IPS, atau matematika yang entah kapan terakhir anda belajar Kelompok Persekutuan Kecil dan Faktor Persekutuan terbesar. 

Wabah Covid-19 jelas menuntut energi dan kemampuan kita dua kali lebih besar bahkan lebih dari biasanya. Positifnya apa? Jelas selalu ada sisi positif dalam setiap hal. Apalagi yang namanya: ‘kesusahan’. Al-Qur’an bahkan menyebutnya sebanyak dua kali pada ayat 5 dan 6 surah Al-Insyirah: “Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan,” Kemudahannya apa? Salah satunya kemudahan berupa kesempatan untuk mengembangkan diri, memperbaiki diri? Mungkin juga. Seseorang yang enggan berurusan dengan dunia maya, mau tidak mau, sudi tidak sudi mesti belajar semua itu.

17 Mei 2020

buku,-

Tidak ada komentar:


“Jika ingin menghancurkan sebuah bangsa dan peradaban, hancurkan buku-bukunya, maka pastilah bangsa itu akan musnah.” - Milan Kundera 

Sudah Sejak lama umat manusia selalu berkeinginan untuk mendapatkan dan juga menyebarkan informasi atau pengetahuan yang dimilikinya kepada orang lain. Sayangnya, keinginan itu belum dapat dibarengi dengan teknologi yang canggih sehingga biasanya, informasi hanya dapat disampaikan secara tutur atau diceritakan turun-temurun, dari mulut ke mulut, dan ini membutuhkan ingatan kuat yang ditampung oleh si pencerita. Tentu, jika ingatan si pencerita pudar, atau bahkan ia meninggal, tentu informasi itu ikut terkubur tak berbekas. Kesulitan berjamaah itu kemudian melahirkan ide-ide baru dalam hal mengabadikan sebuah informasi.

Maka lahirlah orang-orang mesir yang mulai menuliskan simbol-simbol informasi di lembar daun Papyrus. Bangsa Cina yang menuliskan sejarah para kaisar dan orang-orang suci di atas potongan kayu dan bambu, dan orang Timur Tengah yang menulis di potongan kulit domba yang atau kulit binatang lainnya.

Teknologi ‘kertas’ lalu pertama dibuat oleh bangsa Cina sekitar tahun 105 Masehi. Awalnya terbuat dari serat bambu, lalu diteruskan dengan jenis kayu lainnya. Inilah kebangkitan awal bangsa Cina yang berhasil menjadi negara pengekspor kertas ke hampir semua belahan dunia.

12 Mei 2020

kopi,-

Tidak ada komentar:

Kedai Kopi Kong Djie, Blitong 2018

Tulisan ini dimuat juga di mading.id

“Tidak ada yang begitu amat mengena di hati selain rasa manis yang muncul dari isak tangis bersama. –Rousseau.

Kawan, izinkan saya bicara sedikit perihal kopi. Tentu bukan dalam perspektif ahli apalagi seorang sufi. Ini murni dari seorang penikmat kopi. Tidak lebih. 

Bicara kopi, tentu kita akan banyak menemukan seabrek informasi di alam daring, misalnya dalam hal bahasa. Kata “kopi” diadaptasi dari bahasa Arab “qahwa” atau “kahve” dalam istilah Turki. Kata ini mulai diadaptasi ke dalam banyak bahasa Eropa sekitar tahun 1600-an, seperti bahasa Belanda “koffie”, bahasa Perancis “café”, bahasa Italia “caffè”, bahasa Inggris “coffee”, bahasa Cina “kia-fey”, bahasa Jepang “kehi”, dan bahasa melayu “kawa”. Hampir semua istilah untuk kopi di berbagai bahasa memiliki kesamaan bunyi dengan istilah Arab. (Wiliam H. Ukers dalam All About Coffe (1922) seperti disitir oleh laman sasamecoffee.com.).

Kopi, sejak tahun 1453, sudah diperkenalkan oleh Ottoman Turki di Konstantinopel. Kedai kopi pertama di dunia yang bernama Kiva Han pun berada di kota ini, tepatnya dibangun 22 tahun setelah diperkenalkan.

Saya percaya jika kopi merupakan salah satu minuman favorit orang-orang saleh. Dulu waktu nyantri, saya pernah mendengar seorang kiai bercerita, kopi dan rokok adalah teman sehari-hari kaum santri. Para santri meminum kopi agar bisa terjaga di malam hari untuk membaca kitab kuning, dan rokok menjadi alat penerangannya. Tak hanya sebagai alat untuk menghilangkan kantuk, kopi pun menjadi sarana untuk berzikir. Saat mengaduk kopi, konon hitungan mengaduknya dihitung sampai 33 kali ke arah kanan dan 33 kali ke arah kiri. Terus terang, cerita itu sangat memesona saya.

8 Mar 2018

510,-

Tidak ada komentar:
Pemandangan dari Bus 510 (lihat tuh ada imbauan 'Awas Copet')
Tulisan ini dimuat juga di geotimes.co.id

Dekil, kumal, agak bau, tapi dinanti, diminati, didambakan, bahkan dikejar-kejar. Koantas Bima 510 adalah primadona pada masanya.
Siapa pun yang pernah menetap atau sekadar singgah di wilayah Ciputat, Tangerang Selatan, rasanya tak dapat memungkiri bahwa bis 510 tidaklah pernah sepi dari penumpang. Bis trayek dari Ciputat menuju Kampung Rambutan ini benar-benar idola paling tidak sejak era 90-an.

Mudah-mudahan tidak berlebihan jika dikatakan bahwa tidak ada harapan sedikit pun untuk mendapatkan kursi di dalam bis itu jika menaikinya dari depan kampus UIN misalnya. Atau sebaliknya, tidak juga ada harapan mendapat kursi jika penumpang menaikinya di Pasar Rebo atau Kampung Rambutan sekalipun.

Kenyataan tersebut membuat para penumpang dari arah Pasar Rebo atau Kampung Rambutan misalnya yang benar-benar ingin duduk atau tidak mau berdesakan harus menaiki bis ini di pemberhentian lampu merah kemudian ikut masuk terminal Kampung Rambutan, menunggu penumpang asal Ciputat turun di Kampung Rambutan, Nah, barulah orang itu mendapat duduk, itu pun harus berebut dengan penumpang yang sudah menunggu di terminal Kampung Rambutan.

23 Okt 2016

Angngopi di Makassar

Tidak ada komentar:
toko kopi setia, pasar segar makassar

Makassar selalu punya tempat tersendiri dalam ingatan saya. Kota ini bukan sekadar destinasi perjalanan, melainkan penanda banyak "pertama" dalam hidup. Oktober 2016. Untuk pertama kalinya saya menginjakkan kaki di Pulau Sulawesi, sekaligus pertama kali merasakan pengalaman naik pesawat. Norak yah. Ya begitulah. Apa pun itu, harus diakui pengalaman pertama itulah yang membuat setiap sudut kota ini terasa begitu membekas.

Makassar menyambut saya dengan panas yang berbeda. Matahari bersinar terik, embusan anginnya juga panas. Ciri khas kota dengan salah satu pelabuhan terbesar di Indonesia, dan rasanya wajar karena kota ini memang hidup berdampingan dengan pesisir, dengan Pantai Losari sebagai salah satu denyut utamanya.

Namun, pesona Makassar ternyata bukan hanya tentang laut atau panorama senja. Ada satu kebiasaan yang diam-diam mencuri perhatian saya: budaya ngopi di pagi hari. Sejak matahari mulai naik, warung-warung kopi telah dipenuhi orang-orang yang berbincang santai sebelum memulai aktivitas. Kedai kopi Dottoro adalah salah satu yang legend! Secangkir kopi "mentung" dibanderol sekitar delapan ribu rupiah saja. Harganya mungkin murah, tetapi cita rasanya jauh dari kata biasa. Seruputan pertama menjadi pengalaman yang sulit dilupakan. Kopinya pekat, legit, dengan karakter rasa yang kuat namun tetap bersahabat di lidah. Saat itulah saya mengerti mengapa banyak orang mengatakan bahwa cinta bisa datang pada pandangan pertama. Bagi saya, cinta itu hadir lewat secangkir kopi di Dottoro, Makassar.

Perjalanan ke Makassar kala itu bukanlah agenda wisata ataupun perjalanan dinas biasa. Saya datang untuk mengikuti sebuah meeting, forum tahunan yang mempertemukan para insan pemasaran untuk melakukan evaluasi sekaligus menyusun langkah strategis ke depan. Ada rasa bangga sekaligus gugup. Ini adalah kali pertama saya dipercaya menjadi bagian dari forum tersebut.

Di tengah para peserta yang lebih berpengalaman, saya sempat merasa belum cukup pantas berada di ruangan itu. Namun, kesempatan yang telah diberikan tidak ingin saya sia-siakan. Saya mencoba berkontribusi semampu mungkin, menyampaikan pandangan, saran, hingga kritik yang saya yakini dapat menjadi masukan bagi rekan-rekan di Cabang Makassar. Bagi saya, forum itu bukan sekadar rapat tahunan, tetapi ruang belajar yang mempertemukan pengalaman, gagasan, dan semangat untuk terus berkembang.

Sosok yang paling membekas selama kegiatan berlangsung adalah sang Kepala Cabang, Bapak Anas. Banyak orang mengenalnya sebagai pemimpin yang tegas. Saat berdiri di depan forum, pembawaannya begitu berwibawa, suaranya lantang, dan arahannya selalu lugas. Namun, begitu sesi resmi berakhir, sosok itu berubah menjadi pribadi yang hangat dan bersahabat. Di sela waktu istirahat, terutama ketika menikmati kopi dan rokok bersama-sama, suasana menjadi jauh lebih cair. Dari momen-momen sederhana itulah saya belajar bahwa seorang pemimpin tidak hanya dihormati karena ketegasannya, tetapi juga karena kedekatannya dengan orang-orang di sekitarnya.

Sebelum meninggalkan Makassar, saya menyempatkan diri singgah ke Toko Kopi Setia untuk membeli kopi khas sebagai oleh-oleh. Bungkusan-bungkusan kopi yang saya bawa pulang terasa lebih dari sekadar buah tangan. Di dalamnya tersimpan aroma kota, kenangan akan pertemuan pertama, obrolan hangat, pengalaman belajar, serta secangkir kopi yang membuat saya jatuh hati sejak tegukan pertama.

Kini, setiap kali aroma kopi Makassar kembali tercium, ingatan saya selalu pulang ke kota itu. Sebuah kota yang mengajarkan bahwa perjalanan bukan hanya soal berpindah tempat, melainkan tentang pengalaman-pengalaman kecil yang diam-diam menetap dalam ingatan, lalu berubah menjadi cerita yang tak pernah usang.

11 Agu 2015

Mahaguru Pesantren: Syaichona Cholil Bangkalan

Tidak ada komentar:

Judul Buku: Mahaguru Pesantren: Syaichona Cholil Bangkalan
Penulis: Mokh. Syaiful Bakhri
Tebal Hal:  200 halaman
Tahun Terbit: 2015
Cover: Farid Sabilah Rosyad


KH. Cholil Bangkalan adalah ulama besar yang sukses mencetak banyak ulama besar di Indonesia. Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari dan KH. Wahab Hasbullah adalah dua orang pendiri Nahdlatul Ulama organisasi Islam terbesar di dunia yang pernah nyantri kepada KH. Cholil.

Tidak hanya sukses mencetak para ulama besar, semangat, ketekunanan, kemandirian, ke-tawadhu’an, kesabaran, kekhidmatan, kecerdasan, dan kreativitasnya sangat patut dijadikan contoh bagi para pendidik dan generasi muda Indonesia.

Buku ini memotret gambar panjang sosok KH. Cholil yang teguh menuntut ilmu dari pesantren ke pesantren sampai akhirnya berburu ilmu ke kota suci Mekkah. Simak pula bagaimana ia menjalani hidupnya sebagai petugas jaga malam di kantor pejabat Adipati Bangkalan, sampai akhirnya menjadi mantu sang Adipati karena kagum akan kecerdasan KH. Cholil.

Selain itu, terdapat pula kisah unik penyambutan Hasyim Asy’ari sebagai santri baru yang harus terlebih dahulu masuk ke kurungan ayam, juga kisah Wahab Hasbullah yang disambut oleh KH. Cholil dan satrinya dengan teriakan “macan” sambil mengacung-acungkan celurit, tongkat, pedang, dan batang kayu.

Resensi lengkap: www.nu.or.id


Pesantren-Pesantren Berpengaruh di Indonesia

2 komentar:
Judul Buku: Pesantren-Pesantren Berpengaruh di Indonesia
Penulis: Olman Dahuri & M. Nida Fadlan
Tebal Hal: 
248halaman
Tahun Terbit: 2015
Cover: Yudi

Pesantren termasuk lembaga pendidikan paling tua di Indonesia yang punya daya tahan luar biasa. Apa yang membuat sebuah pesantren mampu bertahan, bahkan punya pengaruh besar dalam waktu yang lama hingga ratusan tahun?

Selain memenuhi prasyarat dasar dengan kehadiran figur seorang kiai, santri, pondok, kajian kitab-kitab kuning, dan bangunan masjid yang menjadi episentrum kegiatan santri dan masyarakat, masih banyak faktor lain yang membuat sebuah pesantren mampu bertahan selama puluhan bahkan ratusan tahun dengan daya pengaruh dan sumbangsih yang besar. Dua puluh pesantren yang termuat di buku ini membuktikan agar tak ditelan derap zaman, pesantren tidak boleh berhenti sebagai lembaga pendidikan dan menjadi penjaga moralitas agama semata. Pesantren juga harus turut aktif menjadi pengerek terdepan bagi perubahan sosial di tengah-tengah masyarakat.

Menguak rahasia bagaimana para kiai merintis, mengembangkan, dan memajukan pesantren sambil mendayung di antara dua arus yang saling bertolak belakang antara mempertahankan tradisi dan mengakomodasi modernisasi.

Menelusuri jejak para kiai yang punya sumbangan besar dalam merajut wawasan kebangsaan Indonesia.

Menyajikan ulasan mendalam tentang dinamika kehidupan pesantren-pesantren yang pengaruhnya di tanah air cukup besar, bahkan melintas batas hingga mancanegara.