9 Jan 2026

Solo dan Pelajaran tentang Pulang

Tidak ada komentar:

judulnya kopi podjok, tapi posisinya
di bagian depan pasar ya gaes

Tidak ada daftar panjang tempat wisata, tidak ada ambisi untuk melihat semuanya. Solo seperti pulang, seperti rumah dengan seorang ibu yang menanti di depan pintunya.

Solo bukan kota kelahiran saya, tapi ia tahu cara menyambut saya dengan caranya sendiri. Tidak riuh, tidak berlebihan. Ia seperti seseorang yang sudah berdamai dengan dirinya, sehingga tidak merasa perlu menjelaskan siapa dirinya kepada pendatang: Saya! Kota ini tidak berusaha mengesankan; ia hanya hadir, tenang dan setia pada ritmenya, asyik dengan dirinya sendiri.

Kunjungan saya ke Solo tidak terlalu sering, bisa dihitung jari, mungkin tiga kali dalam kurung waktu lima tahun ke belakang. Tidak banyak yang saya ingat. Hanya tempat-tempat besar yang menyimpan secuil kenangan, salah satunya: Pasar Gede Hardjonagoro. Entah kenapa saya selalu suka dengan aroma pasar. Mungkin karena sedari kecil saya sering diajak Emak saya ke pasar. 

Pasar Gede. Bangunan tua itu berdiri tegak dikelilingi kepungan motor dan becak. Atap menaungi kehidupan yang berjalan bersahaja. Pedagang menghamparkan barang sagangannya, pembeli datang dan pergi, suara-suara kecil saling bersinggungan saling bertabrakan menciptakan suara bising mirip sayap-sayap lebah.

Seingat saya, saya ke pasar ini mungkin sekitar tahun 2018. Yang membawa saya ke sini, Pak Selamet Raharjo namanya, kami memanggilanya Om Slem. Lalu, pertemuan pertama saya dengan mangkuk kecil berisi es dawet dingin di saat itu pun terjadi. Dawet disugukan kepada saya tanpa upacara. Tegukan pertama terasa jujur. Manis gula jawa, gurih santan, dan cendol yang kenyal menyatu dalam rasa yang tidak ingin saling berebut menonjolkan diri. Es dawet ini tidak berusaha memukau; ia hanya ingin setia pada apa yang sejak lama ia kenal.

yang kuning itu duren ya.. by the way

Kini, momen itu pun terulang kembali. Hanya beda waktu, selebihnya sama. Seakan semua seperti membeku sejak dulu sampai saya datang saat ini. Saya duduk, meneguk perlahan, memandangi orang-orang yang berlalu. Di momen itu, saya menyadari bahwa Solo memiliki hubungan yang berbeda dengan waktu. Di sini, waktu tidak dikejar. Ia dibiarkan berjalan, dan kita diajak untuk berjalan bersamanya.

Dari Pasar Gede, saya melangkah ke depan, ke sebuah toko kecil bernama Kopi Podjok. Letaknya sederhana, nyaris luput jika tidak benar-benar memperhatikan. Namun aroma kopi yang keluar dari dalamnya seolah memanggil. Saya memilih beberapa biji kopi, membayangkan suatu pagi di rumah, ketika Solo hadir kembali lewat uap hangat dari cangkir sederhana, di teras rumah, bersama istri.

Membeli biji kopi di kota ini terasa seperti membawa pulang kenangan yang belum selesai. Sesuatu yang bisa dibuka kembali, kapan pun rindu datang tanpa peringatan. Dua bungkus manis ratusan biji: Gunung Lanang dan Temanggung. Meskipun yang lainnya menggiurkan: Gayo dan Sidikalang. Tapi tampaknya saya sedang ingin bermesraan dengan dua pilihan awal saya di depan.


sambil makan, nonton ini, neflix lewat

Menjelang malam, Solo berganti wajah. Lampu-lampu menyala pelan, dan kota ini menemukan bentuk kehangatannya yang lain. Saya diajak singgah di Wedangan Pendopo. Sebuah mahakarya tempat singgah yang lebih mirip rumah idaman semua manusia. Saya duduk di bangku kayu, ditemani minuman hangat berisi jahe geprek dan jeruk peras. Jajanan kecil menyapa persis di depan hidung saya. Wedangan sepertinya bukan sekadar tempat makan; ia adalah rumah kecil yang diperuntukkan bagi siapa saja yang rindu pulang.

Solo mengajarkan saya tentang pulang. Bukan pulang ke kampung halaman asal saya, melainkan pulang ke diri sendiri. Ke versi diri yang mau berhenti sejenak, yang tidak selalu ingin lebih cepat, lebih banyak, atau lebih jauh. Di kota ini, saya belajar bahwa menikmati hidup tidak harus dirayakan dengan gemerlap tapi cukup dengan waktu yang kita biarkan berjalan perlahan tanpa imbauan. 

18 Nov 2022

Menyoal Langit Tak Mendengar

Tidak ada komentar:


Ditulis akibat diskusi gak jelas,-
Forum Bacang Institute (FBI)—
Catatan 18 Nov 2022
Hijrah ahmad
 
Langit Tak Mendengar
Peter Pan 2005
 
Jadi hidup telah memilih
Menurunkan aku ke bumi
Hari berganti dan berganti
Aku diam, tak memahami
 
Mengapa hidup begitu sepi?
Apakah hidup seperti ini?
Mengapa ku s'lalu sendiri?
Apakah hidupku tak berarti?
 
Coba bertanya pada manusia
Tak ada jawabnya
Aku bertanya pada langit tua
Langit tak mendengar
 

Terkesan mendalam dan bermakna. Begitu kira-kira jika kita membaca lirik ini sekilas. Apalagi jika kita mendengarkan lagunya; begitu mars, menggebu-gebu, penuh impresi. Ya. Ariel sepertinya di sini tak hanya menghadirkan lirik, tapi kritik satir soal kehidupan, tuhan, dan kesendirian, luapan sentimentil akan eksistensi seorang anak manusia.
 
Ya. Eksistensi manusia. Boleh dibilang, salah satu problem purba anak manusia adalah persoalan eksistensial. Sependek yang saya tahu, banyak disiplin ilmu, baik teologi, psikologi, sosiologi, bahkan filsafat, persoalan eksistensial manusia selalu menjadi buah bibir yang manis dan tak habis-habis dibahas. Problem eksistensi manusia tak hanya menjelma dalam perbincangan ruang-ruang kelas, tapi juga dalam ekspresi seni yang bernama musik dan lagu, salah satunya adalah lirik besutan Ariel Noah. Lirik dan lagu ini dirilis tahun 2005.
 
Sebelum masuk ke pembahasan, saya ingin sampaikan bahwa tulisan ini semacam rangkuman dari obrolan sambil ngopi sore hari di Bacang bersama Kang Rifki Kurniawan dan Mas Alwi Kosasih. Sejujurnya, sebagai pendengar lagu-lagu Barat, saya jelas tidak terlalu serius ketika membahas ini, tapi karena dua teman saya itu sepertinya sangat tertarik dengan lirik-lirik Ariel ya, saya terpaksa aja serius nanggepinnya.
 
Oke. Mari kita bahas! Rima. Seperti penulis lagu pada umumnya, rima akan selalu menjadi pertimbangan utama dalam sebuah lirik. Di lagu ini, Ariel terlihat jelas mempertimbangkan rima. Itu standar sih. Oke, sampe di situ aman. Gak perlu dibahas panjang. Lanjut, kita masuk ke lirik. Menurut saya, mungkin siapa pun yang membaca lirik ini akan memiliki penafsiran yang sama: Pertanyaan tentang hidup yang seperti sendiri, gak ada yang mau mengerti atau peduli sama kita, terus gak tau mau ngapain lagi? dan seterusnya. Sebagai sebuah pertanyaan eksistensial, terkesan oke sih, apalagi penggunaan diksi “bumi” dan “langit”, wah banget kayanya.
 
Tidak hanya itu, di depan Ariel mengunci lirik “eksistensialnya” itu dengan istilah “hidup”Istilah yang sangat akrab dengan persoalan eksistensial. Istilah “hidup” paling tidak secara primer disebutkan sebanyak empat kali dengan predikat yang berbeda. Pertama “Hidup telah memilih” kedua “hidup begitu sepi”, ketiga “hidup seperti ini”, dan terakhir “hidupku tak berarti”. Kata “hidup” yang pertama dalam kalimat “jadi hidup telah memilih” sudah pasti dihadirkan oleh penulis sebagai penegasian akan keniscayaan takdir yang tidak mampu ditolak oleh semua manusia, yaitu “kehidupan di dunia”.  “Hidup” adalah takdir itu sendiri. Takdir milik Tuhan dan “memilih” adalah kekuasaan Tuhan. Tidak mungkin manusia memilih untuk menghidupkan dirinya sendiri. Menghidupi diri sendiri aja susah!

30 Mei 2022

cinta,-

Tidak ada komentar:
gambar:brilio.net/

“Religious man deeply desires to be, to participate in reality, to be saturated with power.” –Mircea Eliade

Mari bicara cinta. Apa Anda percaya, bahwa karena cinta, Tuhan memercikkan ‘hasrat’-Nya untuk mencipta kreasi sempurna bernama Manusia? Atau, apa Anda lebih percaya, bahwa karena manusia, Tuhan mencipratkan ‘kuasa’-Nya untuk mencipta kreasi terbaik bernama cinta?

Betapa pun kita membolak-balik kemungkinan itu, saya kira hasilnya sama saja. Karena cinta atau karena manusia, cinta tidak mungkin kita pisahkan dari Tuhan. Ketiganya menjadi rangkaian sebab-akibat dan jalan logika, bagi siapa pun itu. 

Tuhan adalah ide tertua yang pernah ada dan dikembangkan manusia, begitu menurut Karen Amstrong. Bagi saya, ide itu berjalan penuh bersama pencarian manusia akan cinta. Karena sejatinya, cinta yang membawa manusia mencari Tuhannya. Cinta adalah sumber hidup dan kehidupan manusia.

Cinta hadir sejak zaman azali dan tetap ada sampai setua apa pun dunia ini. Bukankah umat Muhammad selalu mencita-citakan itu? Cinta yang terbungkus energi dinamis dan aroma yang terus bergolak dan menggelora dalam lamat-lamat selawat.

Tak peduli mata yang buta, kaki yang lumpuh, cinta membuncah Busyiri dalam Syair Burdah, melipat Bediuzzaman Said Nursi dalam metafor zaman yang tercium seperti baru kemarin sore.

13 Sep 2021

guru,-

Tidak ada komentar:

gambar: tanotofoundation.org

Sejak jauh hari, al-Gazali berkata, "kerja seorang guru tidak ubah seperti kerja seorang petani yang senantiasa membuang duri serta mencabut rumput yang tumbuh di celah-celah tanamannya."

Bohong rasanya jika tak ada satu orang pun tak pusing ketiban wabah corona. Siapa pun Anda, pekerja kantoran, pedagang, pelajar, mahasiswa, ibu rumah tangga, (apalagi) guru. pasti pusing dibuatnya. Tidak dimungkiri, wabah Covid-19 nyata telah banyak mengubah laku hidup kita. Mendadak lalu kita bersahabat dengan istilah Lockdown, WFH, LFH, PSBB, dan lain sebagainya. Istilah-istilah itu lalu menjelmakan dirinya sebagai bagian 'penting' dan 'baru' dalam hidup kita: New Normal.

Mendampingi anak-anak learning from home misalnya, tentu sangat memusingkan karena kita pun harus melakukan kegiatan work from home dalam waktu yang bersamaan. Walhasil, dalam satu hari, orangtua harus berbagi tugas antara pekerjaan kantor sekaligus mendampingi anaknya mengerjakan setumpuk tugas yang diberikan oleh gurunya. Bahasa Indonesia, Biologi, IPS, atau matematika yang entah kapan terakhir anda belajar Kelompok Persekutuan Kecil dan Faktor Persekutuan terbesar. 

Wabah Covid-19 jelas menuntut energi dan kemampuan kita dua kali lebih besar bahkan lebih dari biasanya. Positifnya apa? Jelas selalu ada sisi positif dalam setiap hal. Apalagi yang namanya: ‘kesusahan’. Al-Qur’an bahkan menyebutnya sebanyak dua kali pada ayat 5 dan 6 surah Al-Insyirah: “Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan,” Kemudahannya apa? Salah satunya kemudahan berupa kesempatan untuk mengembangkan diri, memperbaiki diri? Mungkin juga. Seseorang yang enggan berurusan dengan dunia maya, mau tidak mau, sudi tidak sudi mesti belajar semua itu.

17 Mei 2020

buku,-

Tidak ada komentar:


“Jika ingin menghancurkan sebuah bangsa dan peradaban, hancurkan buku-bukunya, maka pastilah bangsa itu akan musnah.” - Milan Kundera 

Sudah Sejak lama umat manusia selalu berkeinginan untuk mendapatkan dan juga menyebarkan informasi atau pengetahuan yang dimilikinya kepada orang lain. Sayangnya, keinginan itu belum dapat dibarengi dengan teknologi yang canggih sehingga biasanya, informasi hanya dapat disampaikan secara tutur atau diceritakan turun-temurun, dari mulut ke mulut, dan ini membutuhkan ingatan kuat yang ditampung oleh si pencerita. Tentu, jika ingatan si pencerita pudar, atau bahkan ia meninggal, tentu informasi itu ikut terkubur tak berbekas. Kesulitan berjamaah itu kemudian melahirkan ide-ide baru dalam hal mengabadikan sebuah informasi.

Maka lahirlah orang-orang mesir yang mulai menuliskan simbol-simbol informasi di lembar daun Papyrus. Bangsa Cina yang menuliskan sejarah para kaisar dan orang-orang suci di atas potongan kayu dan bambu, dan orang Timur Tengah yang menulis di potongan kulit domba yang atau kulit binatang lainnya.

Teknologi ‘kertas’ lalu pertama dibuat oleh bangsa Cina sekitar tahun 105 Masehi. Awalnya terbuat dari serat bambu, lalu diteruskan dengan jenis kayu lainnya. Inilah kebangkitan awal bangsa Cina yang berhasil menjadi negara pengekspor kertas ke hampir semua belahan dunia.

12 Mei 2020

kopi,-

Tidak ada komentar:

Kedai Kopi Kong Djie, Blitong 2018

Tulisan ini dimuat juga di mading.id

“Tidak ada yang begitu amat mengena di hati selain rasa manis yang muncul dari isak tangis bersama. –Rousseau.

Kawan, izinkan saya bicara sedikit perihal kopi. Tentu bukan dalam perspektif ahli apalagi seorang sufi. Ini murni dari seorang penikmat kopi. Tidak lebih. 

Bicara kopi, tentu kita akan banyak menemukan seabrek informasi di alam daring, misalnya dalam hal bahasa. Kata “kopi” diadaptasi dari bahasa Arab “qahwa” atau “kahve” dalam istilah Turki. Kata ini mulai diadaptasi ke dalam banyak bahasa Eropa sekitar tahun 1600-an, seperti bahasa Belanda “koffie”, bahasa Perancis “café”, bahasa Italia “caffè”, bahasa Inggris “coffee”, bahasa Cina “kia-fey”, bahasa Jepang “kehi”, dan bahasa melayu “kawa”. Hampir semua istilah untuk kopi di berbagai bahasa memiliki kesamaan bunyi dengan istilah Arab. (Wiliam H. Ukers dalam All About Coffe (1922) seperti disitir oleh laman sasamecoffee.com.).

Kopi, sejak tahun 1453, sudah diperkenalkan oleh Ottoman Turki di Konstantinopel. Kedai kopi pertama di dunia yang bernama Kiva Han pun berada di kota ini, tepatnya dibangun 22 tahun setelah diperkenalkan.

Saya percaya jika kopi merupakan salah satu minuman favorit orang-orang saleh. Dulu waktu nyantri, saya pernah mendengar seorang kiai bercerita, kopi dan rokok adalah teman sehari-hari kaum santri. Para santri meminum kopi agar bisa terjaga di malam hari untuk membaca kitab kuning, dan rokok menjadi alat penerangannya. Tak hanya sebagai alat untuk menghilangkan kantuk, kopi pun menjadi sarana untuk berzikir. Saat mengaduk kopi, konon hitungan mengaduknya dihitung sampai 33 kali ke arah kanan dan 33 kali ke arah kiri. Terus terang, cerita itu sangat memesona saya.

8 Mar 2018

510,-

Tidak ada komentar:
Pemandangan dari Bus 510 (lihat tuh ada imbauan 'Awas Copet')
Tulisan ini dimuat juga di geotimes.co.id

Dekil, kumal, agak bau, tapi dinanti, diminati, didambakan, bahkan dikejar-kejar. Koantas Bima 510 adalah primadona pada masanya.
Siapa pun yang pernah menetap atau sekadar singgah di wilayah Ciputat, Tangerang Selatan, rasanya tak dapat memungkiri bahwa bis 510 tidaklah pernah sepi dari penumpang. Bis trayek dari Ciputat menuju Kampung Rambutan ini benar-benar idola paling tidak sejak era 90-an.

Mudah-mudahan tidak berlebihan jika dikatakan bahwa tidak ada harapan sedikit pun untuk mendapatkan kursi di dalam bis itu jika menaikinya dari depan kampus UIN misalnya. Atau sebaliknya, tidak juga ada harapan mendapat kursi jika penumpang menaikinya di Pasar Rebo atau Kampung Rambutan sekalipun.

Kenyataan tersebut membuat para penumpang dari arah Pasar Rebo atau Kampung Rambutan misalnya yang benar-benar ingin duduk atau tidak mau berdesakan harus menaiki bis ini di pemberhentian lampu merah kemudian ikut masuk terminal Kampung Rambutan, menunggu penumpang asal Ciputat turun di Kampung Rambutan, Nah, barulah orang itu mendapat duduk, itu pun harus berebut dengan penumpang yang sudah menunggu di terminal Kampung Rambutan.

11 Agu 2015

Mahaguru Pesantren: Syaichona Cholil Bangkalan

Tidak ada komentar:

Judul Buku: Mahaguru Pesantren: Syaichona Cholil Bangkalan
Penulis: Mokh. Syaiful Bakhri
Tebal Hal:  200 halaman
Tahun Terbit: 2015
Cover: Farid Sabilah Rosyad


KH. Cholil Bangkalan adalah ulama besar yang sukses mencetak banyak ulama besar di Indonesia. Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari dan KH. Wahab Hasbullah adalah dua orang pendiri Nahdlatul Ulama organisasi Islam terbesar di dunia yang pernah nyantri kepada KH. Cholil.

Tidak hanya sukses mencetak para ulama besar, semangat, ketekunanan, kemandirian, ke-tawadhu’an, kesabaran, kekhidmatan, kecerdasan, dan kreativitasnya sangat patut dijadikan contoh bagi para pendidik dan generasi muda Indonesia.

Buku ini memotret gambar panjang sosok KH. Cholil yang teguh menuntut ilmu dari pesantren ke pesantren sampai akhirnya berburu ilmu ke kota suci Mekkah. Simak pula bagaimana ia menjalani hidupnya sebagai petugas jaga malam di kantor pejabat Adipati Bangkalan, sampai akhirnya menjadi mantu sang Adipati karena kagum akan kecerdasan KH. Cholil.

Selain itu, terdapat pula kisah unik penyambutan Hasyim Asy’ari sebagai santri baru yang harus terlebih dahulu masuk ke kurungan ayam, juga kisah Wahab Hasbullah yang disambut oleh KH. Cholil dan satrinya dengan teriakan “macan” sambil mengacung-acungkan celurit, tongkat, pedang, dan batang kayu.

Resensi lengkap: www.nu.or.id


Pesantren-Pesantren Berpengaruh di Indonesia

2 komentar:
Judul Buku: Pesantren-Pesantren Berpengaruh di Indonesia
Penulis: Olman Dahuri & M. Nida Fadlan
Tebal Hal: 
248halaman
Tahun Terbit: 2015
Cover: Yudi

Pesantren termasuk lembaga pendidikan paling tua di Indonesia yang punya daya tahan luar biasa. Apa yang membuat sebuah pesantren mampu bertahan, bahkan punya pengaruh besar dalam waktu yang lama hingga ratusan tahun?

Selain memenuhi prasyarat dasar dengan kehadiran figur seorang kiai, santri, pondok, kajian kitab-kitab kuning, dan bangunan masjid yang menjadi episentrum kegiatan santri dan masyarakat, masih banyak faktor lain yang membuat sebuah pesantren mampu bertahan selama puluhan bahkan ratusan tahun dengan daya pengaruh dan sumbangsih yang besar. Dua puluh pesantren yang termuat di buku ini membuktikan agar tak ditelan derap zaman, pesantren tidak boleh berhenti sebagai lembaga pendidikan dan menjadi penjaga moralitas agama semata. Pesantren juga harus turut aktif menjadi pengerek terdepan bagi perubahan sosial di tengah-tengah masyarakat.

Menguak rahasia bagaimana para kiai merintis, mengembangkan, dan memajukan pesantren sambil mendayung di antara dua arus yang saling bertolak belakang antara mempertahankan tradisi dan mengakomodasi modernisasi.

Menelusuri jejak para kiai yang punya sumbangan besar dalam merajut wawasan kebangsaan Indonesia.

Menyajikan ulasan mendalam tentang dinamika kehidupan pesantren-pesantren yang pengaruhnya di tanah air cukup besar, bahkan melintas batas hingga mancanegara.

18 Jun 2015

Kampret,-

Tidak ada komentar:
Kampret! Adik Gue ini memang cantik banget! Semacam campuran Senk Lotta sama Meryem Uzerli, gitu deh. Gila! Manis banget! Badannya tinggi semampai, bahunya mungil, alisnya tebal, bibirnya merah, rambutnya lurus tergerai, matanya indah, pokoknya sempurna! Adik Gue memang cantik, tapi yang Gue bingung sampai sekarang, Gue enggak pernah ngerti entah kenapa muka sama perawakan Gue berbeda banget sama si Adik. Badan Gue enggak terlalu tinggi, gembrot, bahu Gue lebar, dan satu lagi yang paling Gue benci dari Gue dan kehidupan alam semesta ini: banyak jerawat di muka Gue. Sebel! Kampret!

Satu waktu Gue sama si Adik bocengan naik motor, Gue yang nyetir, sampai di tikungan jalan, Gue lihat gerombolan anak SMA lagi nongkrong, Gue jalan pelan-pelan sambil lihat anak-anak ingusan itu mangap karena lihat keelokan si Adik. “Ya Alloh Bu… anaknya cakep banget daaah” Teriak salah satu dari mereka. Denger itu sumpah Gue kaget banget! “Hah? Ibu??? Gue dipanggil Ibu? Kampret!! Begundal Tengik! Menghina banget luh!! mentang-mentang badan Gue gembrot! Emangnya muka Gue kelihatan kayak ibu-ibu ya??? Hah! Woi! Gue kakaknya tauu!!! Kampret!” Enggak usai-usai Gue maki-maki itu bocah-bocah dalam hati. Si Adik hanya tersenyum manis sambil mengelus-elus pundak Gue, busyet dah! Kalem banget ya ini anak? Gue lihat dari kaca spion. Gila! Bidadari banget! marah Gue tiba-tiba aja reda.

Gue ini perempuan berhijab, sedangkan si Adik enggak. Tapi Kampretnya! Kalau soal soleh-solehan, si Adik justru jagonya. Entah kenapa si Adik ini gampang bangun malam terus shalat Tahajud. Kalau Gue? Bangun Subuh aja malesnya bukan main. Gara-gara itu, Gue jadi berpikir begini: Apa lantaran sering shalat Tahajud si Adik jadi cantik ya? Ah! bisa jadi tuh! Kampret! Kenapa baru kepikiran gini ya? Buru-buru Gue pasang alarm nyala jam dua pagi. Triiiinngg!! Busyet! Punggung remuk rasanya, kuping pengak, bangun, kucek-kucek mata, Agak ngeblur lihat jarum jam di angka dua. “Ah! Mana mungkin shalat Tahajud bikin cantik? Ada-ada aja nih Gue!” Gumam Gue dalam hati. Demi alasan molor, Gue rela meruntuhkan tesis Gue sendiri.

Benarkah Matahari Mengelilingi Bumi?

Tidak ada komentar:

Judul Buku: Benarkah Matahari Mengelilingi Bumi?
Penulis: Rahmat Abdullah, M.Pd.
Tebal Hal:  xxxvi + 448 halaman

Tahun Terbit: 2015
Cover: Yudi

Buku ini merupakan studi kritis atas buku “Matahari Mengelilingi Bumi, Sebuah Kepastian Al-Qur’an dan As-Sunnah serta Bantahan terhadap Teori Bumi Mengelilingi Matahari” karya Ustadz Ahmad Sabiq. Buku ini mengajak kita untuk merefleksikan atas fenomena-fenomena besar yang sampai dengan saat ini masih diperdebatkan, yaitu perputaran bumi dan matahari.

Dengan kembali kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah, penulis mencoba mengurai kembali Teori Geosentris dan Teori Heliosentris yang selama ini sudah mapan dan diamini oleh para ahli di bidangnya. Selain itu, penulis juga merujuk kepada pemikiran para ulama, cendekiawan muslim, maupun cendekiawan barat. Apakah buku ini yang kita nantikan selama ini, untuk menjawab sebuah pertanyaan dasar tentang alam semesta: Benarkah matahari mengelilingi bumi?