![]() |
| kopi setia di pasar segar |
Makassar selalu punya tempat tersendiri dalam ingatan saya. Kota ini bukan sekadar destinasi perjalanan, melainkan penanda banyak "pertama" dalam hidup. Pertama kali menginjakkan kaki di Pulau Sulawesi, sekaligus pertama kali merasakan pengalaman terbang menggunakan pesawat. Terdengar sederhana, bahkan mungkin sedikit norak bagi sebagian orang. Namun, justru pengalaman pertama itulah yang membuat setiap sudut kota ini terasa begitu membekas.
Begitu keluar dari bandara, Makassar menyambut dengan panas yang berbeda. Matahari bersinar terik, tetapi yang lebih terasa adalah embusan angin yang tetap hangat, seolah membawa aroma laut ke seluruh penjuru kota. Rasanya wajar. Kota ini memang hidup berdampingan dengan pesisir, dengan Pantai Losari sebagai salah satu denyut utamanya.
Namun, pesona Makassar ternyata bukan hanya tentang laut atau panorama senja. Ada satu kebiasaan yang diam-diam mencuri perhatian saya: budaya ngopi di pagi hari. Sejak matahari mulai naik, warung-warung kopi telah dipenuhi orang-orang yang berbincang santai sebelum memulai aktivitas. Secangkir kopi "mentung" dibanderol sekitar delapan ribu rupiah saja. Harganya mungkin murah, tetapi cita rasanya jauh dari kata biasa.
Seruputan pertama menjadi pengalaman yang sulit dilupakan. Kopinya pekat, legit, dengan karakter rasa yang kuat namun tetap bersahabat di lidah. Saat itulah saya mengerti mengapa banyak orang mengatakan bahwa cinta bisa datang pada pandangan pertama. Bagi saya, cinta itu hadir lewat secangkir kopi Makassar.
Perjalanan ke Makassar kala itu bukanlah agenda wisata ataupun perjalanan dinas biasa. Saya datang untuk mengikuti sebuah meeting, forum tahunan yang mempertemukan para insan pemasaran untuk melakukan evaluasi sekaligus menyusun langkah strategis ke depan. Ada rasa bangga sekaligus gugup. Ini adalah kali pertama saya dipercaya menjadi bagian dari forum tersebut.
Di tengah para peserta yang lebih berpengalaman, saya sempat merasa belum cukup pantas berada di ruangan itu. Namun, kesempatan yang telah diberikan tidak ingin saya sia-siakan. Saya mencoba berkontribusi semampu mungkin, menyampaikan pandangan, saran, hingga kritik yang saya yakini dapat menjadi masukan bagi rekan-rekan di Cabang Makassar. Bagi saya, forum itu bukan sekadar rapat tahunan, tetapi ruang belajar yang mempertemukan pengalaman, gagasan, dan semangat untuk terus berkembang.
Sosok yang paling membekas selama kegiatan berlangsung adalah almarhum Pak Anas. Banyak orang mengenalnya sebagai pemimpin yang tegas. Saat berdiri di depan forum, pembawaannya begitu berwibawa, suaranya lantang, dan arahannya selalu lugas. Namun, begitu sesi resmi berakhir, sosok itu berubah menjadi pribadi yang hangat dan bersahabat. Di sela waktu istirahat, terutama ketika menikmati rokok bersama, suasana menjadi jauh lebih cair. Dari momen-momen sederhana itulah saya belajar bahwa seorang pemimpin tidak hanya dihormati karena ketegasannya, tetapi juga karena kedekatannya dengan orang-orang di sekitarnya.
Sebelum meninggalkan Makassar, saya menyempatkan diri singgah ke Toko Kopi Setia untuk membeli kopi khas sebagai oleh-oleh. Bungkusan-bungkusan kopi yang saya bawa pulang terasa lebih dari sekadar buah tangan. Di dalamnya tersimpan aroma kota, kenangan akan pertemuan pertama, obrolan hangat, pengalaman belajar, serta secangkir kopi yang membuat saya jatuh hati sejak tegukan pertama.
Kini, setiap kali aroma kopi Makassar kembali tercium, ingatan saya selalu pulang ke kota itu. Sebuah kota yang mengajarkan bahwa perjalanan bukan hanya soal berpindah tempat, melainkan tentang pengalaman-pengalaman kecil yang diam-diam menetap dalam ingatan, lalu berubah menjadi cerita yang tak pernah usang.
Beberapa tahun setelah kunjungan pertama, Makassar kembali memanggil saya. Kali ini, 15 Januari 2024. Tidak ada lagi rasa gugup seperti dulu ketika pertama kali menginjakkan kaki di Pulau Sulawesi. Sebaliknya, ada rasa akrab, seolah saya sedang kembali mengunjungi seorang sahabat lama.
Saya menginap di sebuah hotel di kawasan Hertasning, tak jauh dari kantor tujuan. Hotelnya sederhana, bahkan cenderung biasa saja. Namun, bagi seorang pejalan, hotel hanyalah tempat singgah untuk memejamkan mata. Kehidupan sesungguhnya selalu berada di luar pintu kamar.
Keesokan harinya, perjalanan membawa saya menuju Kabupaten Maros, sekitar satu setengah jam dari pusat Kota Makassar. Langit pagi diselimuti awan kelabu. Hujan turun bergantian dengan angin yang sesekali bertiup cukup kencang. Cuaca ekstrem membuat Pemerintah setempat meliburkan aktivitas sekolah selama tiga hari. Jalanan tidak seramai biasanya, tetapi denyut kehidupan tetap terasa. Warung makan masih mengepulkan asap, pengendara motor tetap melintas, dan kedai-kedai kopi tetap dipenuhi pelanggan yang seolah sudah akrab dengan cuaca yang berubah-ubah.
Perjalanan ke Maros menghadirkan pengalaman kuliner yang tak kalah menarik. Saya diajak menikmati Pallubasa Ulu Juku, sajian khas yang menggunakan kepala ikan sebagai bahan utama. Kuahnya pekat, kaya rempah, dan menyimpan cita rasa laut yang begitu kuat. Bagi lidah yang baru pertama kali mencicipinya, hidangan ini terasa unik sekaligus menghangatkan tubuh di tengah cuaca yang muram.
Sebagai penutup, tersaji barongko, kudapan tradisional Bugis yang terbuat dari pisang yang dihaluskan, dicampur santan dan telur, lalu dibungkus daun pisang sebelum dikukus. Rasanya lembut, manis yang tidak berlebihan, dan menghadirkan kesan rumahan yang sulit ditemukan di kota-kota besar.
Sore harinya, saya kembali pada kebiasaan yang selalu saya cari setiap kali berada di Makassar: menikmati kopi. Pilihan kali itu jatuh pada Kopi Santai, sebuah kedai dengan bangunan berkonsep kaca nako yang menghadirkan suasana terbuka dan teduh. Cahaya matahari yang menembus sela-sela kaca berpadu dengan aroma kopi yang memenuhi ruangan, menciptakan suasana yang membuat waktu berjalan lebih lambat. Kopinya luar biasa. Salah satu yang paling berkesan selama perjalanan ini.
Hari berikutnya menjadi semacam ekspedisi kecil menjelajahi peta perkopian Makassar. Pagi dimulai di Kopi Teori, tempat yang menyajikan secangkir kopi dengan karakter kuat namun tetap seimbang. Dari sana perjalanan berlanjut menuju Pallubasa Serigala di Jalan Serigala, salah satu nama yang hampir selalu muncul ketika orang Makassar berbicara tentang pallubasa terbaik. Semangkuk kuah kental dengan taburan kelapa sangrai dan irisan daging sapi menjadi santapan siang yang memuaskan.
Menjelang sore, saya kembali menyeruput kopi, kali ini di Panama Coffee, tak jauh dari Hotel Amaris. Saya mulai menyadari bahwa di Makassar, kopi bukan sekadar minuman pengusir kantuk. Ia adalah alasan orang bertemu, berdiskusi, bercanda, bahkan menyelesaikan pekerjaan. Hampir setiap sudut kota memiliki kedai dengan karakter dan pelanggan setianya masing-masing.
Memasuki hari Rabu, ritual pagi dimulai di Koheng. Menu yang sederhana—kopi hitam ditemani telur setengah matang—ternyata menghadirkan kenikmatan yang sulit dijelaskan. Barangkali inilah salah satu tradisi sarapan paling sederhana, tetapi juga paling jujur. Tak lama kemudian saya berpindah ke sebuah kopitiam lain. Lagi-lagi, kopi menjadi teman paling setia dalam perjalanan.
Hari terakhir saya tutup dengan singgah di Kopi Sija Beruang, di Jalan Beruang. Tidak ada agenda besar. Tidak ada rapat yang harus dikejar. Hanya secangkir kopi dan waktu yang sengaja saya perlambat sebelum akhirnya kembali pulang.
Dari dua perjalanan yang saya lakukan ke Makassar, saya semakin percaya bahwa kota ini memiliki identitas yang kuat dalam budaya kopinya. Di sini, kopi bukan sekadar komoditas, melainkan bagian dari ritme kehidupan masyarakat. Kedai-kedai kopi tidak hanya menjual minuman, tetapi juga ruang untuk berbagi cerita, bertukar gagasan, dan merawat persahabatan.
Mungkin itulah alasan mengapa setiap kali pesawat meninggalkan landasan Sultan Hasanuddin, selalu ada satu hal yang terasa tertinggal di kota ini: keinginan untuk kembali menikmati secangkir kopi Makassar, di meja kayu yang sederhana, ditemani percakapan hangat yang tak pernah benar-benar selesai.
