 |
| Kelakuannya sama kayak kita; Ngopi di pinggir jalan |
Frankfurt, Jerman—Kata orang, di sini pusat keuangan Eropa, ritme kehidupannya berjalan nyaris tanpa jeda. Orang-orang berdandan sama: winter coat dengan syal melilit di leher. Trem melintas, pertokoan menghias diri lalu perlahan mulai sesak dipenuhi orang. Kota ini megah. Denyutnya mars, temponya cepat. Frankfurt visual modernitas yang mengalahkan segala ego.
Tapi, siapa sangka? di sudut lain Frankfurt, sebuah jalan bernama Kornmarkt, ada yang masih setia menawarkan jejalan bubuk hitam dengan aroma dayang-dayang, yang seakan mengajak siapa pun untuk memperlambat langkahnya. Namanya Wacker's Kaffee. Kedai kopi legendaris yang menawarkan keabadian kecapan wangi di lidah yang menanti.
Wacker's Kaffee cuma bangunan sederhana. Tidak ada hiasan aneh-aneh, tidak ada jendela kaca menjulang atau desain interior yang mengikuti tren kafe masa kini. Hanya sebuah papan nama klasik yang telah menemani Frankfurt sejak 1914. Di bagian depan, karung-karung berserakan berisi kopi dan coklat, dibiarkan begitu saja seperti ingin menyampaikan bahwa "Selamat, Bung! Anda layak dapat bintang!"
Ini adalah kali pertama Saya datang ke Jerman, tepatnya di Frankfurt. Tentu kedatangan Saya bukan tanpa sengaja. Tugas penting menyertai Saya bersama mungkin sekitar 16 orang lainnya. Tahun ini Saya mendapat kesempatan mengunjungi Frankfurt Book Fair. Pameran buku terbesar dan tertua di dunia. Katanya, sih ke sini salah satu impian para insan literasi. Bagi saya, ini bukan sekadar impian yang menjadi nyata, tapi sebuah penghargaan dan pengalaman yang tak ternilai harganya yang saya dapatkan dari tempat tercinta di mana saya bekerja; Penerbit Erlangga.
So, kita balik lagi ke Wecker's the beautiful place. Layaknya kedai kopi, pengalaman membuka pintu toko adalah salam pembuka dari asap-asap tipis yang membawa aroma kopi. Mereka menyambut seperti rombongan marawis. Sumpah! Wanginya manteng gak pergi-pergi. Apa karena terjebak hawa dingin? Intinya, antara wangi kopi dan udara dingin Frankfurt mengahsilkan kontras yang sempurna! Di balik meja bar, mesin espresso bekerja tanpa henti. Dentingan cangkir, suara biji kopi yang digiling, dan percakapan singkat pelanggan membentuk irama pagi yang akrab.
Tidak banyak kursi tersedia. Sempit banget pokoknya. Sebagian besar pengunjung datang untuk menikmati espresso singkat sebelum melanjutkan aktivitas. Ada yang membaca koran, ada yang berbincang pelan, tetapi sebagian besar hanya berdiri sambil menikmati kopi. Budaya minum kopi di sini terasa sederhana: bukan untuk berlama-lama, melainkan menjadi bagian dari rutinitas harian.
Di salah satu sisi ruangan, rak-rak kayu memajang berbagai biji kopi hasil sangraian Wacker's Kaffee. Setiap kantong mencantumkan negara asalnya—Brasil, Kolombia, Ethiopia, Guatemala, Wina, hingga Java dan Sumatra! Gila! Jauh-jauh ke Jerman, yang jadi primadona ternyata kopi dari tanah kampung sendiri: Nusantara!