19 Agu 2026

Kopi Toraja

Tidak ada komentar:

adem banget tengari bolong

Mungkin bagi kebanyakan orang, menikmati Toraja biasanya didefinisikan dengan melihat langsung uniknya Tongkonan, tebing batu makam, atau deretan kerbau sakral dengan segala mistisme ritualnya. Tapi bagi saya, cara terbaik untuk mendefinisikan Toraja adalah momen saat menikmati seduhan bubuk kopinya sambil duduk tenang di kedai kopi. Bagi saya lagi, aroma kopi tidak sekadar bercerita tentang aroma dan asap tipis yang mengepul tapi ia juga hadir penuh dalam ruang-ruang sunyi kehidupan. Ya! Kehidupan sepi khas seorang anak manusia dengan umur di atas 40 tahun. 

Kopi Phoenam
Sependek yang saya ingat, mungkin baru empat atau lima kali saya bertandang ke Sulawesi. Kota terjauh yang pernah saya kunjungi bernama Pangkeb alias Pangkajene Kepulauan. Di sini, di Makassar tepatnya, saya hampir tidak pernah melewatkan kesempatan menikmati kopi. Seperti wajib hukumnya. Banyak yang klasik, banyak yang enak, salah satunya Kopi Phoenam. 

Jika kita masuk ke dalam kedai ini, kita akan melihat deretan foto-foto lama dengan alur cerita sejarah panjang bagaimana kedai ini didirikan. Sentuhan interior bernuansa Tionghoa, aroma kopi yang membakar hidung, dan sajian roti panggang berselimut sarikaya membuat kopi tak lagi sekadar minum-minum santai—ia seperti bagian dari tradisi bertukar gagasan dan merawat kehangatan berkumpul. Nah, yang uniknya adalah, entah kenapa suguhan di kedai ini sangat mirip dengan apa yang disuguhkan oleh kedai kopi Purnama di Bandung. Ada kopi, ada roti berisi selai srikaya. Mirip banget. Apa memang ini khas dari kedai kopi Tionghoa?—yang tahu silakan komen di kolom komentar ya.

Dalam riwayatnya, Kedai Kopi Phoenam sudah menemani warga Makassar sejak 1946. Dirintis oleh Liong Thay Hiong bersama keluarganya, kedai ini awalnya berada di Jalan Nusantara, dekat Pelabuhan Makassar. Belakangan, Phoenam berpindah ke Jalan Jampea, di kawasan Pecinan Makassar, tempat yang saya kunjungi saat ini.

Nama “Phoenam” sendiri konon berasal dari bahasa Mandarin yang kurang lebih berarti “tempat persinggahan di selatan.” Kalau melihat sejarahnya, nama itu terasa pas. Sejak dulu kedai kopi memang jadi tempat orang mampir—awalnya mungkin sekadar minum kopi, tapi akhirnya lanjut mengobrol ke mana-mana.

Selama puluhan tahun, meja-meja Phoenam mungkin telah menjadi menjadi saksi banyak cerita. Ada yang datang untuk ngobrol santai, bertemu teman, membicarakan bisnis, bahkan berdiskusi soal politik. Jadi, datang ke Phoenam rasanya bukan cuma soal mencari secangkir kopi, tetapi juga mencicipi sedikit sejarah dan budaya ngopi di kota Makassar.

4 Agu 2026

TMT; Membaca Kematian dalam Kehidupan

Tidak ada komentar:
Trio Ambisi

Pernahkah kita, tiba-tiba terdiam setelah mendengar kabar seseorang meninggal dunia? Saudara, teman, atau orang tua kita mungkin? Lalu, seketika kita menjadi sibuk mengingat dosa dan pahala, bertanya kabar pada orang terdekat kita. Ya. Kematian memang belum datang, tetapi kesadarannya diam-diam mengubah cara kita dalam memandang hidup.

Setiap kali kematian terdengar di telinga kita, selalu ada sesuatu yang berubah. Mengapa kematian yang menimpa orang lain justru mampu mengubah cara kita memandang hidup? Pertanyaan itulah yang membawa psikologi modern pada sebuah teori yang kemudian dikenal sebagai Terror Management Theory (TMT). Dikembangkan oleh Jeff Greenberg, Sheldon Solomon, dan Tom Pyszczynski pada dekade 1980-an. Teori ini tidak semata berbicara tentang kematian. Sebaliknya, ia mencoba menjelaskan bagaimana manusia bertahan hidup justru karena sadar bahwa hidupnya akan berakhir.

Warisan Pemikiran Ernest Becker
Jauh sebelum istilah TMT diperkenalkan, seorang antropolog budaya Amerika, Ernest Becker, lebih dahulu menggugat cara manusia memahami keberadaan dirinya. Dalam buku monumental The Denial of Death (1973), Becker mengemukakan satu gagasan yang sederhana, tetapi menggelisahkan: manusia adalah satu-satunya makhluk yang mengetahui bahwa ia akan mati.

9 Jan 2026

Solo dan Pelajaran tentang Pulang

Tidak ada komentar:

judulnya kopi podjok, tapi posisinya
di bagian depan pasar ya gaes

Tidak ada daftar panjang tempat wisata, tidak ada ambisi untuk melihat semuanya. Solo seperti pulang, seperti rumah dengan seorang ibu yang menanti di depan pintunya.

Solo bukan kota kelahiran saya, tapi ia tahu cara menyambut saya dengan caranya sendiri. Tidak riuh, tidak berlebihan. Ia seperti seseorang yang sudah berdamai dengan dirinya, sehingga tidak merasa perlu menjelaskan siapa dirinya kepada pendatang: Saya! Kota ini tidak berusaha mengesankan; ia hanya hadir, tenang dan setia pada ritmenya, asyik dengan dirinya sendiri.

Kunjungan saya ke Solo tidak terlalu sering, bisa dihitung jari, mungkin tiga kali dalam kurung waktu lima tahun ke belakang. Tidak banyak yang saya ingat. Hanya tempat-tempat besar yang menyimpan secuil kenangan, salah satunya: Pasar Gede Hardjonagoro. Entah kenapa saya selalu suka dengan aroma pasar. Mungkin karena sedari kecil saya sering diajak Emak saya ke pasar. 

Pasar Gede. Bangunan tua itu berdiri tegak dikelilingi kepungan motor dan becak. Atap menaungi kehidupan yang berjalan bersahaja. Pedagang menghamparkan barang dagangannya, pembeli datang dan pergi, suara-suara kecil saling bersinggungan saling bertabrakan menciptakan suara bising mirip sayap-sayap lebah.

Seingat saya, saya ke pasar ini mungkin sekitar tahun 2018. Yang membawa saya ke sini, Pak Selamet Raharjo namanya, kami memanggilanya Om Slem. Lalu, pertemuan pertama saya dengan mangkuk kecil berisi es dawet dingin di saat itu pun terjadi. Dawet disugukan kepada saya tanpa upacara. Tegukan pertama terasa jujur. Manis gula jawa, gurih santan, dan cendol yang kenyal menyatu dalam rasa yang tidak ingin saling berebut menonjolkan diri. Es dawet ini tidak berusaha memukau; ia hanya ingin setia pada apa yang sejak lama ia kenal.

Kini, momen itu pun terulang kembali. Hanya beda waktu, selebihnya sama. Seakan semua seperti membeku sejak dulu sampai saya datang saat ini. Saya duduk, meneguk perlahan, memandangi orang-orang yang berlalu. Di momen itu, saya menyadari bahwa Solo memiliki hubungan yang berbeda dengan waktu. Di sini, waktu tidak dikejar. Ia dibiarkan berjalan, dan kita diajak untuk berjalan bersamanya.

23 Okt 2025

Frankfurter Buchmesse

Tidak ada komentar:

Jika ada pertanyaan apa saja hal yang patut disyukuri dalam hidup saya? Salah satu jawabannya adalah bisa menginjakkan kaki di bumi Eropa. Ya! Tahun ini saya berkesempatan menjelajahi Eropa lewat pesona negeri Jerman, Belanda, dan Perancis.

FBF 2025 berlangsung di Messe Frankfurt, Frankfurt am Main, Jerman, dari 15 s.d. 19 Oktober 2025. 
Guest of Honour pada tahun ini adalah negara Filipina dengan tema “The Imagination Peoples the Air”. Dalam catatan websitenya, peserta terdaftar meliputi penerbit, agen literatur, media, kreator dari berbagai negara, serta pengunjung industri (trade visitors) dan kemudian publik umum. Terdapat 118.000 pengunjung (trade visitors) dan 120.000 pengunjung umum dari 131 negara.

Desain dan Pengaturan Kegiatan
Secara lokasi, Messe Frankfurt sangat strategis: hall-hall besar, akses mudah melalui transportasi umum, dan signage yang jelas. Terdapat informasi dalam bentuk hall plan, aplikasi frankfurt connect, dan papa direktori yang membantu para pengunjung. Pengaturan zonasi: terdapat area untuk trade (industri), public area, panggung diskusi, area tamu khusus, tempat istirahat: relax, dan spot untuk acara anak-anak.

Penerbit diberikan tahapan perencanaan sejak jauh hari, dimulai dari pendaftaran, alokasi stan, dan layanan tambahan lainnya. Jam pembukaan ditetapkan secara konsisten, misalnya untuk eksibitor dan visitor tamu mulai pukul 09.00 dan untuk pengunjung umum di jam selanjutnya. 

Dalam hal pengaturan “lalu lintas” pengunjung dan trader visitor, penyelenggara membuat skema: untuk peserta dan eksibitor dapat lebih awal, sebelum publik umum, sehingga industri bisa melakukan negosiasi/networking sebelum publik berdatangan.

Penggunaan aplikasi digital “Frankfurt Connect” yang berisikan seluruh informasi, baik produk, penulis, stan, dan informasi lainnya memudahkan pengunjung untuk merencanakan kunjungan, kontak peserta, appointment, melihat peta hall, dan informasi lainnya.

Booth yang Menarik & Futuristik
Dalam setiap ajang pameran, tentu masing-masing peserta akan mendesain booth semenarik mungkin. Dari beberapa yang diamati rata-rata booth memiliki konsep futuristik yang memadukan permainan bentuk dan cahaya. 

Di booth Mohammed Bin Rashid Al Maktoum Knowledge misalnya, gaya minimalis futuristik, menonjolkan garis tegas bentuk kotak, dominasi warna putih, serta pencahayaan LED biru muda. Penggunaan ruang terbuka dan tinggi atap menciptakan tampilan modern.

Pola yang sama juga disuguhkan oleh booth Thieme. Perbedaannya hanya pada bentuknya, yaitu melingkar. Desain bersih, profesional, dan korporat. Desain Thieme sangat mirip dengan desain booth CBSPD. Elemen dominan: biru dan putih, dengan logo berbentuk pohon sebagai fokus utama di ruang atas (signage melingkar). Pada area duduk dibuat terbuka atau transparan.