![]() |
| Trio Ambisi |
4 Agu 2026
TMT; Membaca Kematian dalam Kehidupan
9 Jan 2026
Solo dan Pelajaran tentang Pulang
![]() |
judulnya kopi podjok, tapi posisinya di bagian depan pasar ya gaes |
Tidak ada daftar panjang tempat wisata, tidak ada ambisi untuk melihat semuanya. Solo seperti pulang, seperti rumah dengan seorang ibu yang menanti di depan pintunya.
Solo bukan kota kelahiran saya, tapi ia tahu cara menyambut saya dengan caranya sendiri. Tidak riuh, tidak berlebihan. Ia seperti seseorang yang sudah berdamai dengan dirinya, sehingga tidak merasa perlu menjelaskan siapa dirinya kepada pendatang: Saya! Kota ini tidak berusaha mengesankan; ia hanya hadir, tenang dan setia pada ritmenya, asyik dengan dirinya sendiri.
Kunjungan saya ke Solo tidak terlalu sering, bisa dihitung jari, mungkin tiga kali dalam kurung waktu lima tahun ke belakang. Tidak banyak yang saya ingat. Hanya tempat-tempat besar yang menyimpan secuil kenangan, salah satunya: Pasar Gede Hardjonagoro. Entah kenapa saya selalu suka dengan aroma pasar. Mungkin karena sedari kecil saya sering diajak Emak saya ke pasar.
Pasar Gede. Bangunan tua itu berdiri tegak dikelilingi kepungan motor dan becak. Atap menaungi kehidupan yang berjalan bersahaja. Pedagang menghamparkan barang dagangannya, pembeli datang dan pergi, suara-suara kecil saling bersinggungan saling bertabrakan menciptakan suara bising mirip sayap-sayap lebah.
Seingat saya, saya ke pasar ini mungkin sekitar tahun 2018. Yang membawa saya ke sini, Pak Selamet Raharjo namanya, kami memanggilanya Om Slem. Lalu, pertemuan pertama saya dengan mangkuk kecil berisi es dawet dingin di saat itu pun terjadi. Dawet disugukan kepada saya tanpa upacara. Tegukan pertama terasa jujur. Manis gula jawa, gurih santan, dan cendol yang kenyal menyatu dalam rasa yang tidak ingin saling berebut menonjolkan diri. Es dawet ini tidak berusaha memukau; ia hanya ingin setia pada apa yang sejak lama ia kenal.
![]() |
| dicampur duren.. bah kelar urusan dunia |
15 Okt 2025
Aroma Nusantara di Wacker's Kaffee
Tapi, siapa sangka? di sudut lain Frankfurt, sebuah jalan bernama Kornmarkt, ada yang masih setia menawarkan jejalan bubuk hitam dengan aroma dayang-dayang, yang seakan mengajak siapa pun untuk memperlambat langkahnya. Namanya Wacker's Kaffee. Kedai kopi legendaris yang menawarkan keabadian kecapan wangi di lidah yang menanti.
So, kita balik lagi ke Wecker's the beautiful place. Layaknya kedai kopi, pengalaman membuka pintu toko adalah salam pembuka dari asap-asap tipis yang membawa aroma kopi. Mereka menyambut seperti rombongan marawis. Sumpah! Wanginya manteng gak pergi-pergi. Apa karena terjebak hawa dingin? Intinya, antara wangi kopi dan udara dingin Frankfurt mengahsilkan kontras yang sempurna! Di balik meja bar, mesin espresso bekerja tanpa henti. Dentingan cangkir, suara biji kopi yang digiling, dan percakapan singkat pelanggan membentuk irama pagi yang akrab.
18 Nov 2022
Menyoal Langit Tak Mendengar

Ya. Eksistensi manusia. Boleh dibilang, salah satu problem purba anak manusia adalah persoalan eksistensial. Sependek yang saya tahu, banyak disiplin ilmu, baik teologi, psikologi, sosiologi, bahkan filsafat, persoalan eksistensial manusia selalu menjadi buah bibir yang manis dan tak habis-habis dibahas. Problem eksistensi manusia tak hanya menjelma dalam perbincangan ruang-ruang kelas, tapi juga dalam ekspresi seni yang bernama musik dan lagu, salah satunya adalah lirik besutan Ariel Noah. Lirik dan lagu ini dirilis tahun 2005.
Sebelum masuk ke pembahasan, saya ingin sampaikan bahwa tulisan ini semacam rangkuman dari obrolan sambil ngopi sore hari di Bacang bersama Kang Rifki Kurniawan dan Mas Alwi Kosasih. Sejujurnya,
Oke. Mari kita bahas! Rima. Seperti penulis lagu pada umumnya, rima akan selalu menjadi pertimbangan utama dalam sebuah lirik. Di lagu ini, Ariel terlihat jelas mempertimbangkan rima. Itu standar sih. Oke, sampe di situ aman. Gak perlu dibahas panjang. Lanjut, kita masuk ke lirik. Menurut saya, mungkin siapa pun yang membaca lirik ini akan memiliki penafsiran yang sama: Pertanyaan tentang hidup yang seperti sendiri, gak ada yang mau mengerti atau peduli sama kita, terus gak tau mau ngapain lagi? dan seterusnya. Sebagai sebuah pertanyaan eksistensial, terkesan oke sih, apalagi penggunaan diksi “bumi” dan “langit”, wah banget kayanya.
Tidak hanya itu, di depan Ariel mengunci lirik “eksistensialnya” itu dengan istilah “hidup”Istilah yang sangat akrab dengan persoalan eksistensial. Istilah “hidup” paling tidak secara primer disebutkan sebanyak empat kali dengan predikat yang berbeda. Pertama “Hidup telah memilih” kedua “hidup begitu sepi”, ketiga “hidup seperti ini”, dan terakhir “hidupku tak berarti”. Kata “hidup” yang pertama dalam kalimat “jadi hidup telah memilih” sudah pasti dihadirkan oleh penulis sebagai penegasian akan keniscayaan takdir yang tidak mampu ditolak oleh semua manusia, yaitu “kehidupan di dunia”. “Hidup” adalah takdir itu sendiri. Takdir milik Tuhan dan “memilih” adalah kekuasaan Tuhan. Tidak mungkin manusia memilih untuk menghidupkan dirinya sendiri. Menghidupi diri sendiri aja susah!


.jpeg)
