![]() |
| Trio Ambisi |
Pernahkah kita, tiba-tiba terdiam setelah mendengar kabar seseorang meninggal dunia? Saudara, teman, atau orang tua kita mungkin? Lalu, seketika kita menjadi sibuk mengingat dosa dan pahala, bertanya kabar pada orang terdekat kita. Ya. Kematian memang belum datang, tetapi kesadarannya diam-diam mengubah cara kita dalam memandang hidup.
Setiap kali kematian terdengar di telinga kita, selalu ada sesuatu yang berubah. Mengapa kematian yang menimpa orang lain justru mampu mengubah cara kita memandang hidup? Pertanyaan itulah yang membawa psikologi modern pada sebuah teori yang kemudian dikenal sebagai Terror Management Theory (TMT). Dikembangkan oleh Jeff Greenberg, Sheldon Solomon, dan Tom Pyszczynski pada dekade 1980-an. Teori ini tidak semata berbicara tentang kematian. Sebaliknya, ia mencoba menjelaskan bagaimana manusia bertahan hidup justru karena sadar bahwa hidupnya akan berakhir.
Warisan Pemikiran Ernest Becker
Jauh sebelum istilah TMT diperkenalkan, seorang antropolog budaya Amerika, Ernest Becker, lebih dahulu menggugat cara manusia memahami keberadaan dirinya. Dalam buku monumental The Denial of Death (1973), Becker mengemukakan satu gagasan yang sederhana, tetapi menggelisahkan: manusia adalah satu-satunya makhluk yang mengetahui bahwa ia akan mati.
Jika demikian, berarti kesadaran itu merupakan anugerah sekaligus kutukan? Yap! Di satu sisi, kesadaran akan kematian membuat manusia mampu merencanakan masa depan, membangun peradaban dan menciptakan kebudayaan. Namun di sisi lain, kesadaran tersebut juga melahirkan kecemasan yang nyaris tak pernah benar-benar hilang.
Menurut Becker, manusia tidak pernah mampu menghapus fakta kematian. Yang dapat dilakukan hanyalah mengelolanya. Dari sanalah kemudian lahir agama, tradisi, norma, sistem nilai, hingga berbagai simbol budaya yang membuat kehidupan terasa bermakna. Dalam karya berikutnya, The Birth and Death of Meaning, Becker menyebut bahwa manusia hidup dengan bertumpu pada dua fondasi utama: makna (meaning) dan nilai (value). Selama seseorang merasa hidupnya berarti, selama ia percaya keberadaannya memiliki nilai, maka bayang-bayang kematian menjadi lebih mudah diterima.
Mengelola Teror yang Tak Pernah Terlihat
Berbekal pemikiran panjang Becker tentang kematian, Solomon dkk kemudian mengembangkan dan memformulasikannya ke dalam teori yang lebih detail: TMT. Teori ini berangkat dari pengamatan sederhana. Semua makhluk hidup memiliki naluri untuk mempertahankan kehidupan. Namun manusia berbeda karena ia mengetahui bahwa sekuat apa pun bertahan, suatu hari hukuman kematian tetap akan datang tanpa diminta dan dinanti.
Kontradiksi inilah yang melahirkan apa yang disebut sebagai kecemasan eksistensial (existential anxiety). Tanpa mekanisme pengelolaan, kecemasan tersebut dapat melumpuhkan kehidupan. Karena itulah manusia membangun berbagai sistem keyakinan yang memungkinkan dirinya tetap hidup secara psikologis. Agama, negara, keluarga, ilmu pengetahuan, pekerjaan, hingga identitas sosial bukan sekadar institusi. Semuanya menjadi benteng yang menjaga manusia dari teror akan kefanaan.
Ketika Budaya Menjadi Tempat Berlindung
Dalam perspektif TMT, benteng itu disebut cultural worldview, atau pandangan budaya. Pandangan budaya bukan hanya kumpulan adat istiadat atau kebiasaan suatu masyarakat. Ia adalah cara bersama dalam memahami dunia, menentukan mana yang benar dan salah, apa yang dianggap baik, serta untuk apa manusia hidup.
Melalui pandangan budaya, manusia memperoleh dua jenis perlindungan sekaligus. Yang pertama bersifat nyata. Peradaban menghadirkan rumah sakit, obat-obatan, teknologi, hukum, pangan, hingga berbagai perangkat yang memungkinkan manusia memperpanjang usia dan mengurangi ancaman terhadap kehidupannya.
Yang kedua bersifat simbolik. Pendidikan, gelar akademik, prestasi, jabatan, reputasi, nilai moral, hingga penghormatan sosial memberi seseorang keyakinan bahwa hidupnya memiliki arti. Simbol-simbol itu menjadi penanda bahwa dirinya bukan sekadar individu yang lahir lalu mati tanpa jejak.
Tak mengherankan apabila manusia cenderung mencari komunitas yang memiliki keyakinan serupa. Di dalam kelompok, seseorang menemukan pengakuan, rasa memiliki, dan kenyamanan psikologis. Ia merasa tidak menghadapi kehidupan seorang diri.
Mencari Jalan Menuju Keabadian
Bagi TMT, hampir semua kebudayaan menawarkan apa yang dapat disebut sebagai formula keabadian. Manusia mungkin tidak dapat hidup selamanya, tetapi ia selalu mencari cara agar keberadaannya melampaui usia biologisnya.
Formula itu hadir dalam dua bentuk. Pertama, Keabadian Literal. Bagi jutaan manusia di berbagai belahan dunia, agama menjadi jawaban paling mendasar atas persoalan kematian. Agama menghadirkan gagasan tentang kehidupan setelah mati, surga, neraka, pahala, dan kehidupan kekal. Dalam kerangka TMT, keyakinan semacam ini disebut literary immortality atau keabadian literal.
Kepercayaan tersebut mengubah cara manusia memandang kematian. Kematian tidak lagi dipahami sebagai akhir, melainkan gerbang menuju bentuk kehidupan yang lain. Karena itulah agama mampu memberi rasa aman psikologis yang sangat kuat. Ketika seseorang percaya bahwa hidup memiliki kelanjutan, kecemasan terhadap kematian pun berkurang.
Tak sedikit orang yang rela berkorban, menaati aturan moral, bahkan mengubah seluruh jalan hidupnya karena meyakini adanya kehidupan yang lebih abadi setelah dunia berakhir.
Kedua, Keabadian Simbolik. Di sisi lain, manusia tidak selalu mencari keabadian melalui agama. Sebagian menemukan keabadian melalui sesuatu yang mereka tinggalkan. Seorang ilmuwan hidup melalui penemuannya. Seorang penulis tetap berbicara lewat buku-bukunya. Seorang seniman dikenang melalui karya-karyanya. Seorang guru terus hidup dalam ingatan murid-muridnya. Bahkan orang tua dapat merasakan keabadian melalui anak-anak yang meneruskan nilai dan cita-citanya. Inilah yang oleh TMT disebut sebagai symbolic immortality atau keabadian simbolik.
Dalam bentuk ini, manusia memang mati secara biologis. Namun gagasan, karya, ilmu pengetahuan, maupun nilai-nilai yang diwariskannya terus hidup melampaui tubuh yang telah tiada.
Dua Penyangga Kehidupan
TMT menjelaskan bahwa manusia akan mempertahankan keseimbangan psikologis melalui sebuah mekanisme yang disebut cultural anxiety buffer.
Penyangga ini terdiri atas dua unsur utama. Yang pertama adalah faith, yakni keyakinan terhadap sistem nilai atau pandangan budaya yang dianut. Faith memberi rasa keteraturan, harapan, dan makna sehingga dunia tidak terasa kacau. Yang kedua adalah self-esteem, atau harga diri. Harga diri tumbuh ketika seseorang merasa dirinya hidup sesuai dengan nilai yang diyakini. Semakin tinggi penghargaan terhadap dirinya sendiri, semakin kuat pula kemampuannya menghadapi kecemasan eksistensial.
Faith dan self-esteem bekerja seperti dua pilar yang menopang kehidupan batin manusia. Ketika salah satunya rapuh, rasa takut terhadap kematian cenderung muncul lebih kuat.
Pada Akhirnya, Semua Adalah tentang Makna
Terror Management Theory sering dipahami sebagai teori tentang kematian. Padahal, sesungguhnya ia adalah teori tentang bagaimana manusia memilih untuk hidup. Teori ini membantu menjelaskan mengapa manusia begitu teguh mempertahankan keyakinan, mengapa identitas kelompok sering menjadi bagian penting dari kehidupan sosial, mengapa agama, budaya, ilmu pengetahuan, bahkan karya-karya besar terus diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Semuanya berangkat dari kebutuhan yang sama: menemukan makna di tengah kepastian bahwa hidup memiliki akhir. Barangkali inilah paradoks terbesar manusia. Kesadaran bahwa suatu hari ia akan mati justru mendorongnya membangun peradaban, menulis kitab-kitab ajaran, menciptakan mahakarya, membesarkan anak-anaknya, berolah raga mati-matian, mendirikan sekolah dan yayasan, menyusun hukum atau aturan, bahkan menatap langit malam sambil bertanya tentang asal-usul semesta.
Mungkin, sejak awal, manusia tidak pernah benar-benar berusaha mengalahkan kematian. Ia hanya terus mencari cara agar makna hidupnya mampu bertahan lebih lama daripada tubuh yang suatu hari akan kembali menjadi tanah.
--
TMT merupakan salah satu pisau bedah yang saya pakai--di dalam tesis saya--untuk membaca dan memahami sistem kehidupan sosial organik masyarakat tarekat. (Univ. Paramadina, 2022).




Tidak ada komentar:
Posting Komentar