 |
judulnya kopi podjok, tapi posisinya di bagian depan pasar ya gaes |
Tidak ada daftar panjang tempat wisata, tidak ada ambisi untuk melihat semuanya. Solo seperti pulang, seperti rumah dengan seorang ibu yang menanti di depan pintunya.
Solo bukan kota kelahiran saya, tapi ia tahu cara menyambut saya dengan caranya sendiri. Tidak riuh, tidak berlebihan. Ia seperti seseorang yang sudah berdamai dengan dirinya, sehingga tidak merasa perlu menjelaskan siapa dirinya kepada pendatang: Saya! Kota ini tidak berusaha mengesankan; ia hanya hadir, tenang dan setia pada ritmenya, asyik dengan dirinya sendiri.
Kunjungan saya ke Solo tidak terlalu sering, bisa dihitung jari, mungkin tiga kali dalam kurung waktu lima tahun ke belakang. Tidak banyak yang saya ingat. Hanya tempat-tempat besar yang menyimpan secuil kenangan, salah satunya: Pasar Gede Hardjonagoro. Entah kenapa saya selalu suka dengan aroma pasar. Mungkin karena sedari kecil saya sering diajak Emak saya ke pasar.
Pasar Gede. Bangunan tua itu berdiri tegak dikelilingi kepungan motor dan becak. Atap menaungi kehidupan yang berjalan bersahaja. Pedagang menghamparkan barang dagangannya, pembeli datang dan pergi, suara-suara kecil saling bersinggungan saling bertabrakan menciptakan suara bising mirip sayap-sayap lebah.
Seingat saya, saya ke pasar ini mungkin sekitar tahun 2018. Yang membawa saya ke sini, Pak Selamet Raharjo namanya, kami memanggilanya Om Slem. Lalu, pertemuan pertama saya dengan mangkuk kecil berisi es dawet dingin di saat itu pun terjadi. Dawet disugukan kepada saya tanpa upacara. Tegukan pertama terasa jujur. Manis gula jawa, gurih santan, dan cendol yang kenyal menyatu dalam rasa yang tidak ingin saling berebut menonjolkan diri. Es dawet ini tidak berusaha memukau; ia hanya ingin setia pada apa yang sejak lama ia kenal.
.jpeg) |
| dicampur duren.. bah kelar urusan dunia |
Kini, momen itu pun terulang kembali. Hanya beda waktu, selebihnya sama. Seakan semua seperti membeku sejak dulu sampai saya datang saat ini. Saya duduk, meneguk perlahan, memandangi orang-orang yang berlalu. Di momen itu, saya menyadari bahwa Solo memiliki hubungan yang berbeda dengan waktu. Di sini, waktu tidak dikejar. Ia dibiarkan berjalan, dan kita diajak untuk berjalan bersamanya.