| toko kopi setia, pasar segar makassar |
Makassar selalu punya tempat tersendiri dalam ingatan saya. Kota ini bukan sekadar destinasi perjalanan, melainkan penanda banyak "pertama" dalam hidup. Oktober 2016. Untuk pertama kalinya saya menginjakkan kaki di Pulau Sulawesi, sekaligus pertama kali merasakan pengalaman naik pesawat. Norak yah. Ya begitulah. Apa pun itu, harus diakui pengalaman pertama itulah yang membuat setiap sudut kota ini terasa begitu membekas.
Makassar menyambut saya dengan panas yang berbeda. Matahari bersinar terik, embusan anginnya juga panas. Ciri khas kota dengan salah satu pelabuhan terbesar di Indonesia, dan rasanya wajar karena kota ini memang hidup berdampingan dengan pesisir, dengan Pantai Losari sebagai salah satu denyut utamanya.
Namun, pesona Makassar ternyata bukan hanya tentang laut atau panorama senja. Ada satu kebiasaan yang diam-diam mencuri perhatian saya: budaya ngopi di pagi hari. Sejak matahari mulai naik, warung-warung kopi telah dipenuhi orang-orang yang berbincang santai sebelum memulai aktivitas. Kedai kopi Dottoro adalah salah satu yang legend! Secangkir kopi "mentung" dibanderol sekitar delapan ribu rupiah saja. Harganya mungkin murah, tetapi cita rasanya jauh dari kata biasa. Seruputan pertama menjadi pengalaman yang sulit dilupakan. Kopinya pekat, legit, dengan karakter rasa yang kuat namun tetap bersahabat di lidah. Saat itulah saya mengerti mengapa banyak orang mengatakan bahwa cinta bisa datang pada pandangan pertama. Bagi saya, cinta itu hadir lewat secangkir kopi di Dottoro, Makassar.
Perjalanan ke Makassar kala itu bukanlah agenda wisata ataupun perjalanan dinas biasa. Saya datang untuk mengikuti sebuah meeting, forum tahunan yang mempertemukan para insan pemasaran untuk melakukan evaluasi sekaligus menyusun langkah strategis ke depan. Ada rasa bangga sekaligus gugup. Ini adalah kali pertama saya dipercaya menjadi bagian dari forum tersebut.
Di tengah para peserta yang lebih berpengalaman, saya sempat merasa belum cukup pantas berada di ruangan itu. Namun, kesempatan yang telah diberikan tidak ingin saya sia-siakan. Saya mencoba berkontribusi semampu mungkin, menyampaikan pandangan, saran, hingga kritik yang saya yakini dapat menjadi masukan bagi rekan-rekan di Cabang Makassar. Bagi saya, forum itu bukan sekadar rapat tahunan, tetapi ruang belajar yang mempertemukan pengalaman, gagasan, dan semangat untuk terus berkembang.
Sosok yang paling membekas selama kegiatan berlangsung adalah sang Kepala Cabang, Bapak Anas. Banyak orang mengenalnya sebagai pemimpin yang tegas. Saat berdiri di depan forum, pembawaannya begitu berwibawa, suaranya lantang, dan arahannya selalu lugas. Namun, begitu sesi resmi berakhir, sosok itu berubah menjadi pribadi yang hangat dan bersahabat. Di sela waktu istirahat, terutama ketika menikmati kopi dan rokok bersama-sama, suasana menjadi jauh lebih cair. Dari momen-momen sederhana itulah saya belajar bahwa seorang pemimpin tidak hanya dihormati karena ketegasannya, tetapi juga karena kedekatannya dengan orang-orang di sekitarnya.
Sebelum meninggalkan Makassar, saya menyempatkan diri singgah ke Toko Kopi Setia untuk membeli kopi khas sebagai oleh-oleh. Bungkusan-bungkusan kopi yang saya bawa pulang terasa lebih dari sekadar buah tangan. Di dalamnya tersimpan aroma kota, kenangan akan pertemuan pertama, obrolan hangat, pengalaman belajar, serta secangkir kopi yang membuat saya jatuh hati sejak tegukan pertama.
Kini, setiap kali aroma kopi Makassar kembali tercium, ingatan saya selalu pulang ke kota itu. Sebuah kota yang mengajarkan bahwa perjalanan bukan hanya soal berpindah tempat, melainkan tentang pengalaman-pengalaman kecil yang diam-diam menetap dalam ingatan, lalu berubah menjadi cerita yang tak pernah usang.