23 Okt 2025

Frankfurter Buchmesse


Jika ada pertanyaan apa saja hal yang patut disyukuri dalam hidup saya? Salah satu jawabannya adalah bisa menginjakkan kaki di bumi Eropa. Ya! Tahun ini saya berkesempatan menjelajahi Eropa lewat pesona negeri Jerman, Belanda, dan Perancis.

FBF 2025 berlangsung di Messe Frankfurt, Frankfurt am Main, Jerman, dari 15 s.d. 19 Oktober 2025. 
Guest of Honour pada tahun ini adalah negara Filipina dengan tema “The Imagination Peoples the Air”. Dalam catatan websitenya, peserta terdaftar meliputi penerbit, agen literatur, media, kreator dari berbagai negara, serta pengunjung industri (trade visitors) dan kemudian publik umum. Terdapat 118.000 pengunjung (trade visitors) dan 120.000 pengunjung umum dari 131 negara.

Desain dan Pengaturan Kegiatan
Secara lokasi, Messe Frankfurt sangat strategis: hall-hall besar, akses mudah melalui transportasi umum, dan signage yang jelas. Terdapat informasi dalam bentuk hall plan, aplikasi frankfurt connect, dan papa direktori yang membantu para pengunjung. Pengaturan zonasi: terdapat area untuk trade (industri), public area, panggung diskusi, area tamu khusus, tempat istirahat: relax, dan spot untuk acara anak-anak.

Penerbit diberikan tahapan perencanaan sejak jauh hari, dimulai dari pendaftaran, alokasi stan, dan layanan tambahan lainnya. Jam pembukaan ditetapkan secara konsisten, misalnya untuk eksibitor dan visitor tamu mulai pukul 09.00 dan untuk pengunjung umum di jam selanjutnya. 

Dalam hal pengaturan “lalu lintas” pengunjung dan trader visitor, penyelenggara membuat skema: untuk peserta dan eksibitor dapat lebih awal, sebelum publik umum, sehingga industri bisa melakukan negosiasi/networking sebelum publik berdatangan.

Penggunaan aplikasi digital “Frankfurt Connect” yang berisikan seluruh informasi, baik produk, penulis, stan, dan informasi lainnya memudahkan pengunjung untuk merencanakan kunjungan, kontak peserta, appointment, melihat peta hall, dan informasi lainnya.

Booth yang Menarik & Futuristik
Dalam setiap ajang pameran, tentu masing-masing peserta akan mendesain booth semenarik mungkin. Dari beberapa yang diamati rata-rata booth memiliki konsep futuristik yang memadukan permainan bentuk dan cahaya. 

Di booth Mohammed Bin Rashid Al Maktoum Knowledge misalnya, gaya minimalis futuristik, menonjolkan garis tegas bentuk kotak, dominasi warna putih, serta pencahayaan LED biru muda. Penggunaan ruang terbuka dan tinggi atap menciptakan tampilan modern.

Pola yang sama juga disuguhkan oleh booth Thieme. Perbedaannya hanya pada bentuknya, yaitu melingkar. Desain bersih, profesional, dan korporat. Desain Thieme sangat mirip dengan desain booth CBSPD. Elemen dominan: biru dan putih, dengan logo berbentuk pohon sebagai fokus utama di ruang atas (signage melingkar). Pada area duduk dibuat terbuka atau transparan.
Sementara itu, Oetinger menampilkan desain berbasis storytelling dan imajinasi anak-anak. Struktur menyerupai rumah bermain dengan warna merah cerah dan elemen gantung berbentuk awan dan bulan. Warna-warna cerah dan elemen visual lucu menggambarkan dunia fantasi dan kehangatan literasi anak. Terdapat desainnya rumah kecil sehingga terkesan lebih homey dan warm.

Di lain tempat, Booth Özlemprint mengusung gaya industrial-modern dengan struktur besi hollow, rak buku terbuka, dan sentuhan elemen alami (tanaman gantung). Warna gelap menciptakan kontras dengan pencahayaan hangat dari lampu gantung berbentuk kipas buku. Lantai kayu menambah kesan hangat dan artistik seperti memperlihatkan perpaduan antara teknologi cetak dan estetika seni sehingga lebih terlihat kreatif dan humanis.

Stage Minimalis dan “Relax” Spot
“Frankfurt International Stage” berposisi di antara hall 6 dan 5. Desainnya simpel dengan kombinasi warna merah yang ikonik. Warna merah terang yang dikombinasikan dengan font sans-serif besar berwarna putih adalah ciri khas dari FBF.  Dengan tulisan tegas “Frankfurt International Stage” pengunjung tentu langsung tahu bahwa itu adalah salah satu area resmi dan penting dari ajang Frankfurt Book Fair. So, jika diaplikasikan ke event Erlangga mungkin dapat menggunakan warna biru dan logo Erlangga.

Panggung ini didukung dengan Teknologi Audio yang profesional merk BOSCH. Selain sound system BOSCH yang dipasang satu di bawah, dan empat di atas, panggung juga dilengkapi headset dan speaker portable. Headset diperuntukkan bagi audiens agar dapat mendengarkan suara dari berbagai bahasa. Desain panggung minimalis cocok untuk acara sesi presentasi, peluncuran buku, atau bincang penulis. Sedangkan teknologi headset penerjemah perlu dipelajari jika dibutuhkan untuk audiens asing.

Tata Ruang visual sangat efisien dan terfokus. Area panggung bersih dan minim visual sehingga pusat perhatian tertuju pada pembicara dan layar. Desain yang menonjolkan isi atau konten pembicaraan dibandingkan elemen dekoratif atau ornamen.

Semua elemen visual baik panggung, layar, speaker memiliki warna yang sama. Tulisan tegas “ONLY AT FBM” menjadi “pesan’ bahwa acara tersebut eksklusif hanya ada di situ.

Dalam penyelenggaraan Frankfurt Book Fair, salah satu elemen pendukung kenyamanan pengunjung yang menonjol adalah keberadaan area bertanda “Relax”. Spot ini tersebar di beberapa titik strategis dalam area pameran dan berfungsi sebagai tempat istirahat bagi pengunjung maupun peserta pameran.

Secara visual, area “relax” dirancang dengan konsep minimalis dan fungsional. Dinding berwarna putih polos dengan tulisan “relax” berukuran besar berwarna merah menjadi ciri khas utama yang mudah dikenali dari kejauhan. Elemen ini memberikan identitas visual yang kuat sekaligus menyampaikan pesan langsung kepada pengunjung tanpa memerlukan penjelasan tambahan.

Bangku yang disediakan berbentuk balok sederhana dengan material kayu atau permukaan berwarna hitam. Meskipun tidak dilengkapi dengan sandaran atau bantalan, desain tersebut sudah mencukupi untuk kebutuhan beristirahat singkat di tengah padatnya aktivitas pameran. 

Secara keseluruhan, spot “Relax” menjadi contoh penerapan desain publik yang fungsional, komunikatif, dan estetis. Kehadirannya memberikan nilai tambah terhadap kualitas penyelenggaraan pameran, menghadirkan keseimbangan antara aktivitas dan ketenangan — sebuah elemen penting dalam menciptakan pengalaman pameran yang menyeluruh dan berkesan.

Bertemu dengan Para Pelaku Penerbitan Lintas Dunia
Memasuki area pameran, satu hal segera terasa: industri penerbitan tidak lagi hanya berbicara tentang buku sebagai produk cetak. Di antara deretan penerbit dari berbagai negara, terlihat bagaimana buku berkembang menjadi bagian dari ekosistem pendidikan, hiburan, teknologi, bahkan gaya hidup. Setiap penerbit hadir membawa karakter, strategi, dan pendekatan yang berbeda dalam menjangkau pembacanya.

Dari Belgia, Cuberdon Books menghadirkan beragam buku anak yang menggabungkan unsur edukasi dengan aktivitas. Koleksinya memperlihatkan bahwa buku anak tidak hanya diarahkan sebagai bahan bacaan, tetapi juga sebagai media yang mendorong anak untuk berinteraksi, bermain, dan belajar melalui aktivitas yang menyenangkan.

Pendekatan terhadap pasar anak juga terlihat pada Caramel Publishing. Penerbit asal Belgia ini secara khusus bergerak di segmen buku anak. Menariknya, Caramel tidak hanya mengomunikasikan produknya dari sisi konten dan visual. Mereka turut membangun citra perusahaan melalui perhatian terhadap proses produksi yang ramah lingkungan dan beretika. Pesan keberlanjutan tersebut menjadi bagian dari identitas merek yang diperkenalkan kepada publik.

Sementara itu, Dreamland Publications memperlihatkan portofolio yang cukup luas, mulai dari buku prasekolah, activity books, board books, hingga coloring books. Kehadirannya di berbagai pameran buku menjadi bagian penting dari strategi memperluas jaringan dan memperkenalkan produk kepada pasar internasional.

Dreamland juga menunjukkan bagaimana penerbit dapat menembus batas geografis melalui strategi multibahasa dan co-publishing. Buku tidak hanya diterbitkan dalam satu bahasa, tetapi dapat disesuaikan dengan bahasa dan konteks lokal di negara tujuan. Kerja sama dengan mitra penerbitan di berbagai negara kemudian menjadi jalan untuk memperbesar jangkauan distribusi sekaligus membuka peluang pertukaran hak cipta.

Di tengah dominasi produk cetak, transformasi digital terlihat melalui kehadiran Edtool Pro. Platform edukasi ini mengembangkan sistem berbasis kecerdasan buatan atau AI untuk menghadirkan konten pendidikan yang lebih interaktif. Kehadirannya memperlihatkan bagaimana teknologi mulai mengambil peran semakin besar dalam proses penyampaian materi pembelajaran.

Hal serupa terlihat pada MozaBook. Platform ini menawarkan perangkat lunak presentasi pendidikan interaktif yang dapat digunakan oleh guru, siswa, maupun sekolah. Strategi produknya pun disusun berdasarkan kebutuhan masing-masing pengguna, mulai dari Teacher Licence untuk guru, Student Licence untuk siswa, hingga Classroom Licence untuk kebutuhan pembelajaran di sekolah.

Pembagian tersebut menjadi menarik karena memperlihatkan bahwa satu produk pendidikan digital dapat dikembangkan menjadi beberapa model layanan berdasarkan karakter konsumennya. Guru, siswa, dan institusi pendidikan tidak diperlakukan sebagai satu kelompok pasar yang sama, melainkan sebagai segmen dengan kebutuhan dan pola penggunaan yang berbeda.

Di sisi lain, BookLife Publishing membawa konsep buku anak yang memadukan pendidikan dengan hiburan atau edutainment. Portofolionya mencakup buku fiksi maupun nonfiksi untuk anak-anak. Strategi komunikasinya pun bergerak di dua jalur sekaligus. Pada sisi B2C, komunikasi diarahkan kepada anak dan orang tua sebagai pembaca dan pembeli. Sementara pada sisi B2B, BookLife membangun hubungan dengan sekolah, distributor, serta mitra pengelolaan hak cipta.

Keberadaan katalog daring menjadi salah satu instrumen penting dalam strategi tersebut. Katalog bukan sekadar daftar produk, tetapi menjadi etalase digital yang memudahkan calon mitra melihat portofolio, mencari judul yang sesuai, dan membuka kemungkinan kerja sama lebih lanjut.

Spektrum tema penerbitan menjadi semakin luas ketika melihat Beyond Words. Berbeda dengan penerbit buku anak, penerbit ini berfokus pada kategori nonfiksi mind-body-spirit dan New Age. Tema-tema mengenai transformasi pribadi dan spiritual menjadi karakter utama dari publikasi yang mereka hadirkan.

Sementara itu, Alice Éditions memperlihatkan pendekatan yang kuat terhadap kualitas visual dan artistik. Penerbit ini menghadirkan picture books, buku anak, novel, hingga buku bergambar dengan tema yang beragam seperti seni, arsitektur, spiritualitas, alam dan hortikultura, serta pariwisata. Di sini, ilustrasi tidak hanya berfungsi sebagai pelengkap teks, tetapi menjadi bagian penting dari pengalaman membaca itu sendiri.

Pendekatan berbeda kembali terlihat melalui Didier Jeunesse, penerbit yang berfokus pada buku anak dan remaja. Koleksinya mencakup album ilustrasi, novel untuk pembaca muda, hingga livre-disque atau buku yang dilengkapi media audio. Format tersebut menunjukkan bagaimana pengalaman membaca dapat diperluas menjadi pengalaman multisensori dengan memadukan teks, visual, dan suara.

Di antara berbagai penerbit komersial, kehadiran King Fahd National Library memberikan perspektif lain mengenai ekosistem literasi. Institusi ini memiliki peran dalam preservasi karya, aksesibilitas informasi, pengorganisasian karya literasi nasional, serta pengembangan kerja sama antarlembaga. Kehadirannya mengingatkan bahwa perkembangan industri buku tidak hanya ditentukan oleh penerbit, tetapi juga membutuhkan institusi yang menjaga, mendokumentasikan, dan memperluas akses masyarakat terhadap pengetahuan.

Dari keseluruhan pengamatan tersebut, terlihat bahwa industri penerbitan global sedang bergerak ke arah yang semakin luas. Buku tidak lagi berdiri sendiri sebagai produk, tetapi berkembang menjadi bagian dari ekosistem yang menghubungkan konten, teknologi, pendidikan, pengalaman pengguna, keberlanjutan, dan jaringan internasional.

Ada beberapa pola yang tampak menonjol. Penerbit buku anak semakin banyak mengembangkan konsep learning through play dan edutainment. Penerbit internasional memperluas pasar melalui penerbitan multibahasa dan co-publishing. Perusahaan teknologi pendidikan menawarkan produk dengan segmentasi lisensi yang jelas antara guru, siswa, dan sekolah. Di sisi lain, isu keberlanjutan mulai digunakan sebagai bagian dari positioning dan identitas sebuah penerbit.

Pengamatan ini sekaligus memperlihatkan bahwa kompetisi industri penerbitan ke depan bukan semata mengenai siapa yang memiliki judul paling banyak. Persaingan bergerak menuju pertanyaan yang lebih besar: siapa yang mampu membangun ekosistem paling relevan di sekitar sebuah buku.

Bagi industri penerbitan di Indonesia, perkembangan tersebut membuka sejumlah peluang. Pengembangan buku aktivitas dan edutainment, kolaborasi co-publishing internasional, adaptasi konten ke berbagai bahasa, integrasi buku cetak dengan platform digital dan AI, hingga pengembangan model lisensi pendidikan untuk sekolah dapat menjadi wilayah yang semakin strategis.

Pada akhirnya, perjalanan menyusuri deretan penerbit ini memberikan satu gambaran yang cukup jelas. Masa depan penerbitan mungkin tetap berawal dari sebuah buku, tetapi tidak lagi berhenti pada halaman terakhirnya. Buku kini menjadi pintu masuk menuju pengalaman belajar, teknologi, kolaborasi, komunitas, dan pasar yang jauh lebih luas.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar