20 Jun 2011

Marjinal Menggugat Negeri!

Tidak ada komentar:
Tak ada yang salah jika mereka berkeluh kesah. Tak ada yang salah jika mereka menggugat. Terlebih melalui apa yang mereka sebut sebagai sebuah pilihan. Bukan sekadar teriakan, lebih dari itu, ini tentang sebuah tanggung jawab dan prinsip hidup.

Apa arti sebuah hidup? Jika menjalaninya hanya dengan kekosongan?

Kalimat itu yang pertama kali mampir di telinga saya saat menjumpai sekelompok pemuda tanggung usia dua puluhan di bawah jalan layang Lebak Bulus-Ciputat. Saya serasa ditampar pertanyaan-pertanyaan tentang hidup, tentang kekosongan.

Di depan mata, tubuh-tubuh ceking, tampang garang, rambut kaku mirip paku, anting-anting besar di hidung dan kuping, celana bolong dan jaket lusuh, dekil, seakan tengah berkata kepada saya bahwa mereka adalah makhluk bebas yang --ingin--teralienasi dari hiruk pikuk “imitasi” kota. Dan mereka berdikari di atasnya.

Mereka memang kusam, tapi mereka di balik kekusamannya mereka menyimpan keyakinan yang sakral yang begitu khusyuk mereka muntahkan dalam lantunan bait-bait lagu pembebasan. Suara mereka parau namun lantang menghunuskan bait demi bait mereka ke gendang telinga. Di tengah deru mesin kendaraan mereka seakan sedang memuntahkan ribuan rasa kecewa, soal cinta ataupun penghibur kehidupan yang makin sulit. Inilah yang membuat saya seperti tidak punya makna hidup.

Cadas Abis!

Tidak ada komentar:
On a cold winter morning in a time before the light
In flames of death's eternal reign we ride towards the fight
When the darkness has fallen down and the times are tough alright
The sound of evil laughter falls around the world tonight

Fighting hard fighting on for the steel through the wastelands evermore
The scattered souls will feel the hell bodies wasted on the shores
On the blackest plains in hell's domain we watch them as they go
In fire and pain now once again we know

So now we fly ever free, we're free before the thunderstorm
On towards the wilderness our quest carries on
Far beyond the sundown, far beyond the moonlight
Deep inside our hearts and all our souls

19 Mei 2011

Mari Tafsirkan lagi, lagi, dan lagi!

Tidak ada komentar:

Beberapa hari yang lalu Saya menonton film berjudul The Pursuit of Happyness di salah satu stasiun TV Swasta, film ini dibintangi oleh Will Smith (Crish Gardner), Jaden Smith (Christopher), Thandie Newton (Linda). Sebuah film tentang pertarungan seorang kepala rumah tangga yang bernama Crish Gardner dalam memperjuangkan kehidupannya bersama Linda istrinya, dan Crhistopher anaknya.

Terus terang Saya belum pernah menonton film ini sebelumnya. Padahal film ini pertama kali dirilis 4 tahun yang lalu. Cukup lama juga film ini. Yah, walaupun demikian, Saya Bagi Saya film ini adalah film yang baru. Film ini sungguh menggugah, begitu dramatis, Will Smith dan Jaden Smith sangat berhasil dalam memainkan perannya masing-masing.

Film ini bersetting pada tahun 80-an di San Francisco, California. Chris dan keluarganya hidup di apartemen kecil. Chris adalah salesman yang menjual beberapa alat scanner tulang (Bone Density Scanner) portable . Chris menjual alat ini ke rumah sakit-rumah sakit. Karena harganya cukup mahal dan jarang ada rumah sakit yang mau membeli alat ini, maka tidak jarang dalam satu minggu Chris tidak memiliki penghasilan. Linda, istrinya, yang hanya bekerja sebagai buruh di sebuah laundry tidak bisa banyak membantu Chris yang harus membayar sewa rumah dan tagihan-tagihan yang semakin menumpuk. Linda tidak mampu hidup dengan keadaan demikian, dan akhirnya ia pergi ke kota New York meninggalkan Chris dan Christopher.

14 Mei 2011

Islamic Parenting

Tidak ada komentar:
Desain Cover By: Sony Sonatha
Judul: Islamic Parenting
Penulis: M. Fauzi Rahman
Editor: Adhika Prasetya. Hijrah S.
Penerbit: Erlangga, 2011
Ukuran: 14,5 x 21 cm
Halaman: 134

Islamic Parenting adalah buku yang disusun sebagai buku panduan dalam mendidik anak dalam proses tumbuh kembangnya secara islami (sesuai ajaran Islam). Buku ini membahas seluk-beluk dan tata cara dalam membesarkan dan mendidik anak dengan baik dan penuh kasih sayang dan tentunya dengan berpedoman kepada kaifiah para ulama , sunah Nabi, dan Al-Qur’an.
Dalam buku ini, penulis pemposisikan anak sebagai “amanah”. Sebagaimana sebuah amanah, anak harus dijadikan tanggung jawab yang penuh, karena selain bertanggung jawab secara norma di mata masyarakat, juga kita bertanggung jawab kepada Allah SWT sebagai pemberi amanah (anak).