14 Jul 2011

Talk Show Buku Islamic Parenting

Tidak ada komentar:
Lobby Cilandak Town Square, tepat pukul 16:00 WIB, para pengunjung sudah memenuhi bangku acara, terlihat tiga orang menaiki panggung acara. Suara tepuk tangan menyambut kedatangan mereka. Mereka adalah M. Fauzi Rachman, Zaskia Adya Mecca, dan Ratna Dumila. Mendadak suasana riuh ramai karena arena acara dipenuhi oleh kehadiran 23 media massa dan media elektronik. Acara ini adalah acara peluncuran & talkshow buku berjudul: “Islamic Parenting: Pendidikan Anak di Usia Emas. Peluncuran buku ini diadakan oleh Penerbit Erlangga hari Kamis, 7 Juli 2011 yang terangkai dalam acara Erlangga Family Fair (EFF) 2011 yang digelar di Cilandak Town Square (Citos), Jakarta Selatan.

“Pak Azra Bagai Kendaraan yang tak Punya Spion”

1 komentar:
Pak Azra—begitu biasanya Prof. Dr. Azyumardi Azra disapa—sumingrah saat suara tepuk tangan para tamu undangan mengiringi ia dan tiga orang lainnya, Bagus Priambodo (Presenter TVOne), Todung Mulya Lubis, Ph.D (Advokat/Ketua IKADIN), dan Prof. Dr. Komaruddin Hidayat (Rektor UIN Jakarta), naik ke atas panggung. Kehadiran keempat orang ini tidak lain adalah sebagai pembicara pada acara peluncuran buku berjudul: “CERITA AZRA; Biografi Cendekiawan Muslim Azyumardi Azra”. Peluncuran buku yang bertemakan: “Menelusuri Perjalanan Hidup Sang Permata Hijau yang Diakui Dunia” ini diselenggarakan oleh Penerbit Erlangga pada tanggal 23 Juni 2011, dimulai dari pukul 18.00 WIB di Diamond 1, Lobby Level Hotel Nikko Jakarta.

20 Jun 2011

Marjinal Menggugat Negeri!

Tidak ada komentar:
Tak ada yang salah jika mereka berkeluh kesah. Tak ada yang salah jika mereka menggugat. Terlebih melalui apa yang mereka sebut sebagai sebuah pilihan. Bukan sekadar teriakan, lebih dari itu, ini tentang sebuah tanggung jawab dan prinsip hidup.

Apa arti sebuah hidup? Jika menjalaninya hanya dengan kekosongan?

Kalimat itu yang pertama kali mampir di telinga saya saat menjumpai sekelompok pemuda tanggung usia dua puluhan di bawah jalan layang Lebak Bulus-Ciputat. Saya serasa ditampar pertanyaan-pertanyaan tentang hidup, tentang kekosongan.

Di depan mata, tubuh-tubuh ceking, tampang garang, rambut kaku mirip paku, anting-anting besar di hidung dan kuping, celana bolong dan jaket lusuh, dekil, seakan tengah berkata kepada saya bahwa mereka adalah makhluk bebas yang --ingin--teralienasi dari hiruk pikuk “imitasi” kota. Dan mereka berdikari di atasnya.

Mereka memang kusam, tapi mereka di balik kekusamannya mereka menyimpan keyakinan yang sakral yang begitu khusyuk mereka muntahkan dalam lantunan bait-bait lagu pembebasan. Suara mereka parau namun lantang menghunuskan bait demi bait mereka ke gendang telinga. Di tengah deru mesin kendaraan mereka seakan sedang memuntahkan ribuan rasa kecewa, soal cinta ataupun penghibur kehidupan yang makin sulit. Inilah yang membuat saya seperti tidak punya makna hidup.

Cadas Abis!

Tidak ada komentar:
On a cold winter morning in a time before the light
In flames of death's eternal reign we ride towards the fight
When the darkness has fallen down and the times are tough alright
The sound of evil laughter falls around the world tonight

Fighting hard fighting on for the steel through the wastelands evermore
The scattered souls will feel the hell bodies wasted on the shores
On the blackest plains in hell's domain we watch them as they go
In fire and pain now once again we know

So now we fly ever free, we're free before the thunderstorm
On towards the wilderness our quest carries on
Far beyond the sundown, far beyond the moonlight
Deep inside our hearts and all our souls